Artikel Terbaru

AJA WERA yang Dipelesetkan Maknanya Menghambat Upaya Kwalitas Umat Hindu

kategori:
Di Bali kata majemuk Aja Wera tidak asing lagi. “Aja Wera” terdiri atas dua buah kata. “Aja” dan “Wera”. "Aja" kawi berarti “jangan” (Kamus Bahasa Bali I Wayan Simpen AB) dan (Kamus Bahasa Kawi Mardi Warsito). “Wera” berarti ribut, bahasa Balinya uyut, endeh (Kamus Bahasa Bali I Wayan Simpen AB), juga berarti “mabuk”, gila-gilaan (Kamus Bahasa Kawi Mardi Warsito). Jadi “Aja Wera” atau “Aja Were” berarti jangan ribut, jangan mabuk, jangan gila-gilaan, ketika seseorang ingin belajar pengetahuan agama maupun pengetahuan lainnya hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam situasi yang tenang, aman, tidak ribut, gaduh dan tidak mabuk, gila- gilaan berbuat aneh-aneh. selengkapnya

Nafsu Asmara Jayadratha Kepada Draupadi

kategori: Artikel Baru
Saat itu melintas di dekat ashrama Pandawa, Raja Sindu, Jayadratha dengan busana sangat mewah, rencana untuk melangsungkan perkawinan di kerajaan Shalwa; banyak pangeran ikut bersama dalam rombongannya. Beristirahat di dalam hutan Kamyaka, Jayadratha melihat Draupadi sedang berdiri di halaman Ashrama. Sosok Draupadi yang cantik sempurna terlihat menyala di antara pepohonan berwarna gelap di sekitarnya. selengkapnya

Manusia Pranawa

kategori: Artikel Baru
Nafas adalah prana. Brata yang ditujukan pada nafas dinamakan pranayama. Orang yang berhasil dalam brata nafas disebut jayaprana. Jaya berarti menang. Kalau orang itu kemudian mati, maka tubuhnya disebut layonsari. Layon berarti layu. Sari berarti bunga. Jasad orang yang sudah jaya prana disamakan dengan sekuntum bunga layu. selengkapnya

Medsos dan Budaya Koh Ngomong

kategori: Artikel Baru
Sebuah ungkapan sederhana ‘Aywawere’ pemah tumbuh subur dan berkembang secara luas di masyarakat pada zamannya. Pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung persoalan-persoalan agama dan budaya yang kerap tidak mendapat jawaban yang memuaskan selalu diakhiri dengan ucapan ‘Aywawere’ sebagai jawaban pembenar terakhir yang tidak terbantahkan. Sesungguhnya 'Aywawera' ini sebuah ungkapan yang pemah tenget (sakral) beberapa dekade yang lalu, namun kini di era digitalisasi ungkapan tersebut sayup-sayup mulai tidak terdengar denyut nadinya. selengkapnya

Politik Aywawere, masihkah?

kategori: Artikel Baru
Bali itu penuh simbol. Tak banyak yang bisa langsung memahami maknawinya. Pun peneliti asing, Sthepen Lansing (2006) salah satunya. Hildred Geertz (1975) saat menulis kekerabatan orang Bali juga pusing, dan menyimpulkan Bali itu dalam banyak hal misleading. Durasi dalam kebudayaan lain adalah kenyamanan waktu, di Bali tidak berlaku. Sirkulasi lebih penting karena banyak idiom justru bisa lahir. Bali itu dinamis, tak pemah diam, namun dalam ritmiknya malah tak mau pergi ke puncak. selengkapnya

Aywawera Millenial: Dunia tanpa pintu

kategori: Artikel Baru
Ini zaman "nov" begitulah akun Facebook sumringah, tetua kita menyebutkan "wartamana". Postulat perubahan itulah yang abadi demikianlah perubahan dari zaman perangko, telegram, telephone, hand-phone entahlah apa lagi yang akan datang. Bill Gates dengan bijak mengeluarkan anak panah “we always overestimate the change that will accur in the next two years and underestimate the cahne that will accur in the next ten. Don’t let yourself be lulled into inaction” bahwa kita terlalu menaksir terlalu tinggi perubahan yang akan terjadi dalam 2 tahun kedepan dan meremehkan perubahan yang dapat terjadi 10 tahun ke depan selengkapnya

Yoga Tidur

kategori: Artikel Pilihan
Mungkin banyak orang pernah merasakan keadaan rileks maksimal ketika tubuh dalam keadaan setengah tidur dan setengah terjaga. Keadaan ini bisa dikatakan sedang dalam proses menuju tidur. Dewasa ini, keadaan setengah tidur ini dengan sengaja dicari melalui sebuah teknik rileksasi, atau disebut yoga nidra (yoga tidur). Dalam keadaan ini, tubuh akan rileks secara sempurna dan para praktisi secara sistematis semakin meningkat kesadarannya menuju dunia bhatin melalui instruksi verbal. selengkapnya

Aywawera: Elemen atau Ornamen?

kategori: Artikel Baru
'Aywawera' atau ‘haywa werah’ adalah sebuah kata majemuk atau klausa imperatif (subjek orang kedua lesap) bentukan dari 'aywa atau haywa (jangan, janganlah)’ dan ‘werah atau wera (membuka rahasia, lalai, ceroboh; ribut, heboh)’. Kata ini passim ditemukan terutama dalam teks-teks tutur berbahasa Jawa Kuna dan Kawi-Bali yang umumnya ditulis 'ajawera'. Khusus untuk kata 'aywa', bentuknya beragam dalam bahasa Jawa Kuna, seperti ‘haywa’, ‘aywa’, ‘hayo, ayo, aja' belakangan berubah menjadi ‘ojo’ dalam bahasa Jawa Modern. selengkapnya

Ajya Wera, Aja Ewere

kategori: Artikel Baru
Mengacu pandangan Pierre Bourdieu, salah satu modal besar yang dimiliki umat Hindu (Bali) adalah modal simbolik. Modal simbolik meliputi segala bentuk prestise, status, otoritas dan legitimasi. Khusus terkait dengan legitimasi, modal simbolik, merupakan upaya melestarikan dan meningkatkan pengakuan sosial melalui reproduksi skema-skema persepsi yang paling cocok hingga menghasilkan tindakan-tindakan simbolik yang bahkan kemudian diwarisi turun temurun. selengkapnya

Bhur Bhuvah Svah Tiga Kesadaran Alam

kategori: Artikel Pilihan
Maha vyarti Om Bhuh, Om Buvah, Om Svah merupakan mantra yang mendahului savitri mantra atau yang lebih populer sebagai Gayatri Mantra (RV 3.62.10). Selama melantunkan savitri mantra, nyanyian ini didahului oleh suku kata OM dan kata bhur bhuvah svah mengikutinya. Dalam Taittiriya Aranyaka (2.11.1-8), dijelaskan bahwa savitri mantra harus dinyanyikan dengan suku kata Om, diikuti oleh tiga Vyahrtis. selengkapnya