Artikel Terbaru

Hari Raya Kuningan Sebagai Tonggak Meningkatkan Keharmonisan Keluarga

kategori: Hari Suci
Sebagai umat Hindu kita sungguh sangat bersyukur karena kita banyak mempunyai hari-hari suci keagamaan. Ada yang datangnya setiap enam bulan sekali (tepatnya setiap 210 hari sekali), seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan, ada juga yang datangnya setahun sekali, seperti Hari Raya Nyepi dan Hari Siwaratri. Hari ini, Saniscara Kliwon Kuningan, kita merayakan Hari Raya Kuningan. selengkapnya

JANA NAJA 'Manusia Malu'

kategori: Artikel Baru
Kata जन (jana) adalah kata Sanskerta yang berarti “manusia”. Kata “jana” berasal dari suku kata yakni suku kata ja yang mendahului suku kata na. Jika suku kata na mendahului ja, maka akan menjadi kata Sanskerta नज (naja) yang artinya “malu”. Jika kita mengucapkan kedua suku kata ini secara berulang-ulang, maka kedua kata tersebut akan saling melengkapi (ja-na-ja-na-ja-...dst.). Demikian pula dengan maknanya, jana (manusia) akan sempurna jika dilengkapi dengan naja (rasa malu). selengkapnya

Nyepi dan Peradaban Berkualitas

kategori: Hari Suci
Tanggal 1 bulan Waisaka Tahun Saka 1939 bertepatan dengan Selasa, 28 Maret 2017, dirayakan umat Hindu sebagai Tahun Baru Saka. Sudah lama umat Hindu Indonesia merayakan Tahun Baru Saka dengan melaksanakan Nyepi. Ritual Nyepi diawali dengan melaksanakan melasti, kemudian dilanjutkan dengan tawur agung. Lalu, Nyepi selama penuh dan diakhiri ngembak nyepi atau geni. selengkapnya

Nyepi untuk Keutuhan NKRI

kategori: Hari Suci
Selamat datang Tahun Baru Saka 1939. Tahun Saka sebagai penanggalan yang sejak belasan abad yang lalu digunakan sebagai penanggalan resmi di seluruh Nusantara segera akan memasuki tahun yang ke-1939. Penanggalan Saka yang dimulai sejak 21 Maret 78 Masehi merupakan tonggak sejarah berakhirnya perang antarsuku di daratan Bharatawarsa yang ketika itu meliputi wilayah India, Pakistan, Afghanistan, dan Bangladesh (saat ini). selengkapnya

Yadnya Peyangga Tegaknya Kehidupan

kategori: Artikel Baru
Kehidupan beragama di Bali tidak akan pernah lepas dari yang namanya upacara, banten, tradisi, budaya, dan sebagainya, seolah olah tidak ada sekat pemisah antara agama dan kebudayaan. Memang benar bahwa agama yang diterapkan di Bali memiliki penampakan yang sangat berbeda dengan agama Hindu yang ada di India, namun memiliki esensi dan tujuan yang sama. selengkapnya

"Punarjanma" Membentuk Insan Menjadi Manusia

kategori: Artikel Baru
Punarjanma masih tetap menjadi sesuatu yang aneh bagi banyak orang. Jika umat Hindu atau para penganut ajaran Veda yang "terperangkap" dalam keraguan tersebut, tentu saja segera harus mengakui diri sedang berada dalam kegelapan avidya alias dirinya masih terjauhkan dari sentuhan-sentuhan ajaran suci Veda. Kegelapan hanya dapat dijauhkan bukan dengan mengusir kegelapan, melainkan dengan menyalakan lampu penerang. Kegelapan avidya tidak dapat diusir melainkan orang dapat menyalakan "vidya jyoti" atau "jhana jyoti", (lampu penerang) berupa ilmu pengetahuan suci. selengkapnya

Sepuh, Sesepuh, dan Ajisepuh

kategori: Artikel Baru
Memang benar kata orang Jawa bahwa ‘tua’ itu memiliki banyak makna. Kata ‘tua’ dalam bahasa Jawa disebut sebagai ‘tuwa’ atau dalam tingkat tutur yang lebih tinggi disebut dengan istilah ‘sepuh’. Dalam terminologinya, masyarakat Jawa sering membedakannya dalam tiga istilah yang berbeda, yaitu: sepuh, sesepuh, dan ajisepuh. selengkapnya

Tutur Tantular

kategori: Artikel Pilihan
Kata-kata di atas nampak seperti judul sinetron laga “Tutur Tinular” yang saat ini sedang tayang di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Sebuah sinetron laga yang mengisahkan cerita dari para leluhur pada zaman Hindu (Majapahit) di abad lampau. Tutur Tantular yang dimaksudkan dalam tulisan ini juga masih terkait dengan zaman Majapahit yang kejayaannya telah dikenal seantero jagad pada masa itu. Akan tetapi sayangnya, saat ini sudah banyak manusia Indonesia yang lupa akan sejarah tersebut. selengkapnya

Indahnya Perbedaan

kategori: Artikel Pilihan
Tuhan itu memang luar biasa. Maha Ada dan Maha Kreatif. Bayangkan dari hampir 8 (delapan) milyar manusia yang hidup di muka bumi ini, tidak ada satupun manusia yang wajahnya persis sama. Bahkan mereka yang terlahir kembarpun wajahnya tidak sama, minimal sidik jarinya pasti berbeda. Ini merupakan rahasia Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan dan dipertentangkan. Hal ini berarti bahwa Tuhan sendiri sebagai pencipta alam semesta ini sangat menyukai perbedaan. Lalu kenapa manusia yang merupakan ciptaan Tuhan, justru sering mempertentangkan soal perbedaan yang ada?. Pertanyaan ini perlu kita renungkan dalam-dalam. selengkapnya

AIR SUCI

kategori: Artikel Baru
Pada masyarakat Bali dibedakan dua jenis air yaitu, air yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (profan) dan juga air yang digunakan untuk kebutuhan upacara agama (sakral). Dalam kitab Rg. Weda, X.17.10 disebutkan demikian: "semogalah air suci ini menyucikan kami bercahaya gemerlapan. Semogalah. pembersih ini membersihkan kami dengan air suci. Semoga air suci ini mengusir segala kecemeran. Sungguh kami bangkit memperoleh kesucian darinya". selengkapnya