AIR SUCI

Pada masyarakat Bali dibedakan dua jenis air yaitu, air yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (profan) dan juga air yang digunakan untuk kebutuhan upacara agama (sakral). Dalam kitab Rg. Weda, X.17.10 disebutkan demikian: "semogalah air suci ini menyucikan kami bercahaya gemerlapan. Semogalah. pembersih ini membersihkan kami dengan air suci. Semoga air suci ini mengusir segala kecemeran. Sungguh kami bangkit memperoleh kesucian darinya".

Keyakinan masyarakat Bali bahwa air suci akan memberikan kecemerlangan dan bercahaya dalam diri manusia, air suci dipercaya akan mampu mengusir segala pengakit, pencemeran hidup sehari-hari. Itulah sebabnya masyarakat senantiasa menjaga dan memelihara sumber-sumber air, mengadakan upacara yadnya di tempat itu, dan berbagai kegiatan fisik lainnya dalam rangka menjaga kesucian dan kebersihan tempat suci itu. Berbagai cerita rakyat (mite, legenda, dongeng), tembang/geguritan, diciptakan dalam rangka menjaga kesucian air tersebut. Kesucian seseorang yang memohon agar kesucian air itu berkualitas dan bermanfaat untuk kehidupan juga sangat menentukan. Sifat air secara alami adalah mengalir, jernih, menyucikan, membersihkan, menyegarkan, menyuburkan, mengawetkan, menghidupkan dan juga menghancurkan sangat diperhatikan oleh masyarakat Bali.

Penelitian para ahli khususnya para antropolog menyimpulkan bahwa pemukiman, pasraman dan juga kerajaan biasanya dibangun dipinggir sungai atau dekat dengan air yang bisa diakses sampai ke laut dan samudra.

Peradaban weda berasal dari peradaban air yang kita warisi sampai sekarang. Kerajaan-kerajaan besar di India lahir dari sungai yang ada di sana seperti Yamuna, Gangga, Saraswati, Mohenjodaro di tepi sungai Sindu. Demikian juga sungai yang ada di Indonesia seperti sungai Musi dengan kerajaan Sriwijaya, kerajaan Mataram di sekitar sungai Bagawan Solo, demikian juga kerajaan Gelgel (Bali) sekitar sungai Unda. Hal ini bisa dimaknai bahwa peradaban Bali dibangun atas peradaban air itu. Demikian juga tujuan hidup masyarakat Hindu Bali adalah mencari amertha yang bisa diartikan sebagai kelepasan, kebahagiaan, kesejahteraan hidup, semuanya berhubungan dengan karakter air suci yang sangat diperhatikan oleh umat. Penghormatan dan kecintaan kita akan kualitas air menjadi sangat diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Demikian juga dalam proses pengobatan dan penyembuhan yang dilaksanakan oleh umat Hindu, bahwa dalam Rgweda x.9.8 disebutkan demikian: "Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, dosa apapun yang terdapat pada diri kami, dan kejahatan apapun yang telah kami lakukan demikian pula kebohongan dan kata-kata keliru yang telah kami ucapkan, semogalah dengan air yang diberkahi ini manjauhkan kami dari segala kesalahan tersebut". Bahwa air yang setiap saat kita berikan doa, akan memberikan cahaya dan sinar bagi kesehatan kita, semua roh jahat tidak akan berhasil mengganggu kita, inilah kasiat dari air yang sudah kita doakan itu, karena air yang didoakan dia akan mengandung kristal dan bermanfaat untuk kesehatan. Demikian juga bahwa dengan kekuatan doa seorang wiku, beliau mampu menurunkan air Gangga, air suci atau tirtha yang berada dalam bejana atau swamba. Air suci ini mempunyai fungsi dan makna yang sangat penting dalam kehidupan ini, itulah sebabnya agama Hindu di Bali sering disebut dengan agama Tirtha.

Dengan modal budaya yang kita miliki dan sudah tertuang di dalam teks-teks sastra, kearifan lokal yang sudah dijalankan secara mantradisi, bagai-mana kepercayaan, sikap dan tindakan kita di dalam memperlakukan air suci tersebut dengan sangat baik. Mem-perhatikan lingkungan kecil dan juga lingkungan besar (jagat raya) sudah menjadi tradisi bagi umat Hindu, semuanya itu adalah bertujuan mendapatkan air suci yang berkualitas.

Modal budaya, modal simbolik yang kita miliki ternyata belum sepenuhnya mampu mengarahkan tindakan dan perilaku kita untuk mengelola sumber-sumber air suci yang telah kita miliki. Banyak sekali sumber-sumber air menjadi kering, hilang yang akhirnya akan memberikan timbal balik terhadap manusia. (Bp, 11/2/17) memberitakan bahwa Bali dikepung oleh bencana, sebagian daerah di Bali mengalami bencana a1am, banjir, dan tanah longsor. Hal ini akibat dari alam Bali yang sudah bopeng semakin rusak dari hulu sampai hilir. demikian juga PDAM setiap musim hujan tidak mampu melayani pelanggannya, disebabkan karena tingkat kekeruhan yang tinggi pada sumber air sungai. Bencana seperti ini sering juga disebut dengan istilah antropogene, bencana yang disebabkan karena ulah manusia. Manusia sudah mulai tidak memperhatikan hutan yang ada di hulu, kurang memperhatikan tumbuh-tumbuhan, kurang memperhatikan sumber-sumber air, dan tentunya kebiasaan membuang sampah ke sungai sudah sangat memprihatinkan.

Modal budaya, tradisi dan kearifan lokal yang telah menuntun manusia untuk hormat terhadap hukum alam yang diciptakan oleh air tersebut patut terus disosialisikan kepada generasi berikutnya. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini dilakukan oleh manusia patut disingkirkan, dihilangkan agar kita tepat bisa menjaga kualitas air yang ada dan kita tetap bisa memperhatikan air suci yang telah kita miliki itu, karena kehidupan dan peradaban ini sangat memerlukan air suci.

Oleh: Ida Bagus Dharmika
Source: Majalah Wartam/Edisi 24/Februari 2017