Awighnam: Semoga Tiada Rintangan

Om Awighnamastu Namo Siddham merupakan kalimat yang sangat umum diucapkan saat akan memulai suatu pekerjaan apakah itu terkait aktifitas berfikir, berkata, maupun dalam tindakan fisik. Seperti para kawi yang menempatkan awighnamastu pada baris awal dalam berbagai lontar; Wrhaspati tattwa, Jnana tattwa, Buwana Kosa, kakawin Arjuna Wiwaha dan sebagainya. Awighnamastu menjadi doa singkat yang sangat penting bagi para kawi yang memerlukan bukan hanya konsentrasi namun juga karunia agar apa yang ditulis mendapat tuntunan, perlindungan dari segala halangan dan rintangan, dan memperoleh taksu siddhi yaitu daya kekuatan yang tersimpan dalam karyanya sehingga menjadi bertuah dan mampu mebius pembaca dari waktu kewaktu. Bahkan Mahabharata yang abadi telah ditulis langsung oleh ganesha sang pemberi anugrah sarwa siddha.

A=tidak, wighna=rintangan, astu=semoga. Huruf a dalam awighnamastu mengandung arti sebagai ketiadaan atau pertentangan dari kata berikutnya, dan astu berarti semoga demikian. Ajaibnya huruf a didepan kata wighna menyebabkan wighna (rintangan) menjadi sirna. Disini huruf "A” dipandang mengandung kekuatan yang meniadakan atau membakar wighna sehingga penempatan A diawal kata negatif hampir sama fungsinya dengan nir yang berarti nol, misalnya nirwighna berarti tanpa rintangan.

Rintangan (wighna) hidup memang tak dapat dihindari selama manusia hidup didunia, bahkan setelah meninggalpun (geguritan atma prasangsa) sang roh konon melewati berbagai rintangan yang mengerikan sebagai cermin prilaku yang bersangkutan selama hidup di dunia. Penderitaan manusia yang seolah tanpa akhir bersumber dari panca klesa, seperti yang disebutkan dalam Yoga sutra Patanjali 11.3: “Avidyasmita raga dvesaa bhinivesah klesah”, bahwa ada 5 penyebab penderitaan yang terdiri dari: 1. Awidya: Kebodohan. 2. Asmita: Keakuan. 3. Raga: Keterikatan. 4. Dwesa: Kebencian. 5. Abhiniwesa: Ketakutan akan kematian.

Wighna dan klesa sebenarnya bersumber pada diri sendiri akibat kebodohan, keakuan, keterikatan, rasa benci, dan ketakuatan akan kematian yang berlebihan. Kebodohan menyebabkan kebingungan, keakuan menimbulkan kesombongan, keterikatan menyebabkan keserakahan dan kesedihan, dan ketakutan menyebabkan hilangnya kesadaran. Setiap sikap dan tindakan dalam penyelesaian suatu persoalan akan berpengaruh pada persoalan berikutnya yang akan dihadapi. Pertimbangan yang tepat memerlukan kebijaksanaan pikiran yang disebut wiweka. Wiweka tidak sekedar melibatkan pengetahuan, pengalaman, kesabaran, tetapi yang lebih diperlukan adalan sinar suci Tuhan sehingga jalan terbaik akan diperoleh.

Salah satu kelemahan manusia adalah bahwa ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya, sehingga hidup manusia bagaikan teka-teki yang tak berujung. Rintangan bak sebuah pertanyaan hidup yang harus dijawab dengan sebuah atau beberapa tindakan yang hasilnya serba ketidakpastian. Karena itu perjalanan hidup setiap orang memiliki variasi tersendiri tergantung apa tantangan yang dihadapi dan bagaimana ia menyikapinya dalam tindakan sehingga hasil akhir akan diperoleh.

Pandawa dan Korawa ketika diuji ole Gurunya Drona, untuk membidik sasaran seekor burung, mereka memberikan tangapan yang berbeda sesuai dengan fokus masing-masing. Yudistira melihat batang pohon secara utuh tempat burung itu bertengger, sedangkan Arjuna hanya melihat satu titik pada tubuh burung tersebut. Guru Drona kemudian memahami bahwa Arjunalah satu-satunya yang memiliki bakat memanah terbaik.

Seseorang sering gagal fokus tehadap apa yang dihadapi oleh karena begitu banyak pertimbangan yang mungkin bahkan tidak terlalu penting. Sehingga banyak waktu terbuang hanya untuk persoalan-persoalan kecil. Kita lupa apa yang menjadi fokus tujuan hidup yang sebenarnya yaitu moksartham jagadhita, seperti banyak dijelaskan dalam sastra kuno bahwa diri kita yang sejati yang merupakan perwujudan kesadaran (tutur) sedang dalam kondisi tidur (turu). Maka alpa dari yang sejati adalah penyebab dari persoalan hidup yang sebenarnya. Oleh sebab itu, Wighna terbesar manusia adalah ketika ia lupa dengan tujuan yang sejati sehingga menempuh jalan yang tak jelas ujung pangkalnya.

Dalam kenyataan hidup memiliki wiweka sangat diperlukan, untuk itu pengetahuan yang meningkatkan wiweka amat sangat diperlukan. Pengetahuan dapat diperoleh melalui Tri Premana (Pratyaksa, anumana, agama) yang melibatkan pengalaman langsung, melakukan analisa atas gejala yang ada dan meminta bantuan dari sumber yang terpercaya. Pengalaman dipandang sebagai guru yang paling utama, karena darinya pengetahuan utuh akan diperoleh. Pengetahuan inilah yang kemudian merupakan tongkat penuntun menuju pembebasan dari ikatan yang melekat pada manusia. Kesucian diri dan pengetahuan suci akan menuntun pada kesucian, oleh karena kesucian itulah menyebabkan tumbuhnya wiweka. Hal ini telah menjelaskan mengapa banyak para pertapa memilih hidup dalam pengasingan duniawi demi memperoleh pengetahuan pembebasan (moksa).

Bagi yang giat bekerja, Bhagawad Gita 11.47 menganjurkan bekerja tanpa ikatan akan hasil sebagai sarana pembebasan dipandang sebagai dharma yang tertinggi. Ketika kerja sebagai persembahan dari rasa bhakti yang mendalam, maka Tuhan akan memberikan karunia yang sama dengan para yogi yang jiwanya tidak terikat lagi oleh ikatan duniawi. Bagi seorang pekerja menjadikan Kerja, bhakti dan cinta kasih sangat diperlukan sebagai penghancur rintangan.

Bhakti perlu diwujudkan dengan suatu Sadhana yaitu praktek spiritual dari seorang bhakta. Sadhana mendekatkan manusia dengan Tuhan, seperti besi yang mendekat pada sebuah magnet, sehingga seolah besi itu adalah magnetnya. Seorang Bhakta yang tulus dan penuh pelayanan akan memperoleh karunia, kemampuan yang baik dalam menghadapi setiap persoalan hidup karena senantiasa dalam perlindungan dan tuntunan Tuhan. Sri Krishna dalam Gita IX. 22 menyatakan:

"Ananyas cintayanto mam
ye janah paryupasate
tesham nityabhiyuktanam
yoga-ksemam vahamyaham"

Terjemahan:
Tetapi, mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja, kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu, akanAku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga apa yang sudah dimilikinya.

Namun kenyataanya manusia lebih sering lupa mendekatkan diri dengan Tuhan saat dalam kondisi nyaman. Namun sebaliknya akan begitu dekat ketika persoalan berat sedang ia hadapi. Tuhan menjadi tempat terakhir untuk mengadu, dan memohon solusi atas hambatan yang dihadapi. Seorang bhakta yang baik akan melaksanakan sadhana dalam kondisi apapun. la selalu waspada dan percaya sepenuhnya bahwa Tuhan mengendalikan hidupnya. Pada umumnya Tuhan di puja dalam berbagai perwujudan atau manifestasi Dewa-Dewi sesuai dengan karma si penyembah.

Dalam berbagai pustaka Hindu, Ganesha adalah dewa ilmu pengetahuan, penghancuran segala awidya, kegelapan pikiran, dan segala rintangan. Pemujaan Ganesa bertujuan untuk mendapatkan tuntunan Tuhan dalam mengembangkan hidup yang bijaksana. Kemampuan menghadapi tantangan dan mengembangkan kebijaksanaan, sebagai langkah awal untuk meraih hidup yang damai dan sejahtera di bumi ini. Dalam Ganashtakam disebutkan:

Sarva vighna haram devam sarva vighna vivarjitham,
Sarva sidha pradatharam, Vandeham Gana Nayakam.

Terjemahan:
Penghormatan Ganesha yang merupakan pemimpin ganas yang menghilangkan segala rintangan, Dia yang meniadakan semua jenis hambatan, dan Dia yang memberkati seseorang dengan segala prestasi.

Dengan memuja Ganesha diharapkan segala rintangan dan hambatan (wighna) ditiadakan sehingga segala keberhasilan dan kesuksesan diperoleh (sarwa sidha). Permohonan ini menunjukkan bahwa penting bagi seorang bhakta memberikan pujian pada Tuhan seta mengungkapkan rasa takutnya akan hambatan hidup dan mengakui bahwa ia memerlukan bantuan Tuhan (Ganesha) untuk menghalau segala rintangan serta berkat kesuksesan didalam kehidupanya. Wighna yang ingin dijauhkan, siddha yang ingin diperolah (Awighnam astu namo siddham).

Awighnamastu adalah sebuah doa dengan harapan agar segala rintangan yang dhadapi ditiadakan demi lancamya suatu aktifitas yang meliputi pikiran, perkataan dan tindakan sehingga memperoleh sarwa Siddha yaitu segala macam keberhasilan.

Oleh: Gde Adnyana
Source: Majalah Wartam, Edisi 31, September 2017