Desa, Kala, Patra vs Homogenisasi

Umat Hindu dari Bali di Palangkaraya pernah resah. Isu itu memang tak pernah jelas, hingga kini. Tetapi menurut kabar, mereka sempat (katanya) agak “memaksakan” upacara keagamaan seperti di Bali. Beruntung, sampai saat ini Balai Sarah masih tegak menjadi sentral pemujaan ke hadapan Sang Atalalangit. Hal yang sama, meski tersamar, sempat juga terdengar umat Hindu di Jawa sebenarnya “tidak terlalu nyaman” dengan pura karena sejak hidup dan mendapat pengaruh agama, mereka melakukannya di bataran candi. Tak berbeda, umat Hindu dari Tanah Karo menyalakan rokok sebagai saksi dalam pemujaan, di samping menggunakan dupa dan hio.

Di kota besar, salah satunya Jakarta, asegan tempat meletakkan gebogan, canang, daksina dsb dibuat dari besi dengan sistem knock down, yang setelah odalan disimpan rapi lagi untuk digunakan pada odalan berikutnya. Selain tahan lama, juga mudah menggunakannya, cukup 3-5 orang. Mereka, umat Hindu di Jakarta itu punya alasan kuat. Pertama, sumber daya, dukung-dalam hal ini sarana upakara-tidak selalu tersedia setiap hari di pasar. Jikapun ada, relative mahal. Kedua, dalam event besar seperti odalan, tidak bisa nedunang krama banjar dengan ketog semprong sehingga perlu afektivitas dan efisiensi. Ketika, mereka berkeyakinan, besi sebagai bahan asegan berasal sepenuhnya dari unsur alam, setelah dibentuk dan sebelum digunakan, asegan besi itu harus disucikan dengan tirtha, sebagaimana sama persisnya dengan asegan yang dibuat dari bambu. Keempat, jika umat Hindu di Jakarta haruslah copy paste dengan apa yang berlaku di Bali, dapat dipastikan mereka akan segera punah!

Begitulah adab umat Hindu di luar Bali. Tak ada yang salah, dan tak mungkin menyalahkannya hanya dengan satu perspektif monolitik. Terminology desa, kala, dan patra menjadi wadah besar untuk menampung keanekaan itu. Yang lainnya, manut kula dresta, desa mawacara, dslb. Bahkan Bhagawadgita menyeru dengan menerima segela bentuk dan jalan pemujaan asal dilakukan dengan tulus. Untuk dimensi eksoteris, bentuk pemujaan dan alat yang digunakan, Hindu tidak menyediakan ruang paksa harus seragam, tak terkecuali di Bali sendiri yang dibentuk oleh keanekaragaman, bahkan hingga ditingkat banjar. Menyeragamkan itu semua menjadi satu standar yang saklek, apalagi dibuat oleh yang merasa mayoritas, jelas sia-sia. Padahal dalam dimensi esoterik sekalipun, yang seharusnya bisa disamakan, tetap saja tersedia pemaknaan yang berde-beda.

Tase of culture biasanya ditentukan oleh yang mayoritas. Dengan standar itu, mayoritas menginginkan yang minoritas mengikutinya. Jika berhasil, mereka (minoritas) akan segera terperangkap untuk didominasi. Begitu kira-kira teori distinction yang sering dirujuk pegiat sosial budaya. Jika sudah begitu, biasanya mereka tak puas, lalu melaksanakan semua yang tampak menjadi homogeni, sama, dan seragam. Homogenisasi akan segera melapangkan jalan hegemonisasi. Bahaya laten yang mungkin diinvestasikan model ini adalah konflik, entah terbuka maupun tersembunyi.

Jika merefleksikan cara pandang di atas ke dalam kehidupan, kondisi itu adalah kematian kecil, sebuah sandyakalaning. Padahal Hindu malah sebaliknya, agama yang membuka peluang perbedaan, tumbuhnya keragaman, sangat kaya warna. Hampir semua eksoterisme dibangun di atas taman sari itu. Bahkan tentang Tuhan yang esa saja, Hindu mengajarkan umatnya untuk memuja dengan ragam bentuk (rupa) dan sebutan (nama). Ekam sat wiprah bahuda wadanti.

Spirit terbesar tumbuh, berkembang dan bertahannya Hindu di dunia, terkhusus di nusantara adalah konsep desa, kala, dan patra, sebuah konsep kebebasan, keberpihakan, keterceburan, bahkan pendakian. Memikirkan semuanya tampak homogeny hanyalah memunggungi kejeniusan para leluhur, sekaligus mengingkari keberadaan diri yang Panca Maha Bhuta sebagai pembentuk badan justru disusun berdasarkan unsur dan bahan yang berbeda-beda.

Ketimbang memaksakan homogenisasi, lebih baik memikirkan bagaimana konsep desa, kala, patra menjadi ideologi umat Hindu di manapun berada. Melalui konsep ini pula mereka melenturkan dirinya dengan apapun dan siapapun, tanpa menanggalkan esoterisme yang mengikat kesatuan mereka sebagai Hindu, seperti mempertebal keyakinan atas hukum karma, meyakini reinkarnasi, menghayati jalan Tuhan yang berbeda-beda, dslb. Sebaiknya juga kita membiarkan umat Hindu melakukan perjumpaan budaya dengan kearifan lokal di mana mereka tumbuh dan berkembang. Percayalah, mereka akan memengaruhi sekitarnya dengan energy positif karena Hindu adalah Sanathana Dharma.

Oleh: I Nyoman Yoga Segara, Antropolog IHDN Denpasar