Galungan, Semua Menikmati Kemenangan

Ada yang memahami Sang Diri-]ati di dalam diri-semuanya melalui meditasi, ada yang memahami lewat perolehan pengetahuan sejati, dan ada juga melalui tindakan tanpa pamerih;
namun, kendati sementara orang tidak menguasai pengetahuan sejati itu, tetapi bila ia segera ikut memuja dan sepenuhnya mengabdikan diri kepada-Nya setelah mendengar wejangan dari yang lain (yang bijak), maka ia pun bisa melampaui kematian atau ketidaksadaran diri total itu. BhagavadGita XIII. 24-25

Mengawali Kemenangan Sejati   

Bagaimana Anda memaknai kemenangan selama ini? Apakah kemenangan mesti berarti mengalahkan atau menundukkan orang lain, makhluk lain atau alam? Kalau Anda memaknainya demikian, maka Anda harus terus-menerus berjuang seumur-hidup Anda untuk itu, dimana setiap kemenangan yang Anda peroleh itu bersifat parsial, temporer, dan oleh karenanya semu. Bukan kemenangan sejati. Ia setiap waktu siap berbalik menjadi kekalahan.

Umumnya, kebanyakan dari kita memaknai kemenangan seperti itu. Padahal, kemenangan yang sejati bersifat ajeg. Sekali Anda memenangkan atau menundukkannya, Anda memenangkannya selamanya, karena Anda telah mengalahkan sumber dari kekuatannya. Hanya bila Anda benar-benar telah mampu memaknai kemenangan seperti ini, segala potensi untuk meraih kemenangan sejati ada pada Anda. Sebelum itu, seberapa banyak dan besarpun kemenangan dalam pertempuran dan peperangan-kasar maupun halus, fisikal maupun mental-yang telah Anda raih, hanya
bersifat parsial, temporer dan semu saja.

Kalau Kurukshetra adalah medan perang dimana Bharatayuddha yang dahsyat itu berlangsung, maka diri sendiri inilah, kshetra inilah medan perang bagi para calon pemenang sejati. Apa yang disebut sebagai enam musuh di dalam (sad-ripu), tujuh keggelapan-batin (peteng-pitu, sapta-.timira), enam pembunuh keji (sad-atatayi), lima kekotoran-batin (panca-klesa), lima kebingungan (panca-niwarana), sepuluh noda (dasa-mala), serta berbagai bentuk kemelekatan dan belenggu lahiriah dan batiniah-yang kesemuanya merupakan biang-kerok dari berbagai macam penderitaan umat manusia-bersemayam disini, pada dan di dalam kshetra ini. Yang memahami inilah yang disebut Kshetrajna oleh Sri Krishna di dalam Gita Ilahi-Nya. Ia adalah Saksi Agung, yang sementara ini sedang tertidur pulas pada kebanyakan dari kita.

Terjaga, bangkit dan berfungsinya Sang Saksi Agung inilah awal dari kemenangan sejati itu. Inilah keterjagaan dan kebangkitan sejati. Manakala Ia telah bangun, maka Anda tak akan pernah lagi merasa perlu mempertanggung-jawabkan tindakan ucapan dan pemikiran Anda yang manapun ke luar, seperti yang anda lakukan selama ini Dengan penuh kesadaran, dan melaluinya, Anda hanya akan bertaneeune-jawab kepada-Nya. Apapun yang Anda perbuat, ucapkan dan pikirkan atas kesaksian dan dampingan-Nya dan Anda pertanggung-jawabkan hanya kepadaNya. Di dalam Gita Ilahi-Nya ini pulalah Beliau dengan sangat lugas menegaskan "Akulah Kshetrajna dari semua kshetra".

Memahami kshetrayang adalah diri kita sendiri berikut apa-apa yang mesti diperangi itu, dan memahami bang Kshetrajna-yang bersemayam pada setiap manusia-jelas-jelas dikatakan oleh Krishna sebagai pengetahuan yang sesungguhnya, yang sejati, yang mengawali kemenangan sejati. Sebaliknya, hanyalah kebodohan dan kekalahan sejati. Segala ikhwal tentang ini baru dipaparkan secara mengkhusus di dalam adhyaya ketiga-belas dari Bhagawad Gita, dan tidak dalam adhya-ya-adhyaya sebelumnya. Mengapa? Agaknya ini perlu kita jadikan bahan perenungan ringan tersendiri.

Menundukkan diri sendiri!

Pada dasarnya, kemenangan sejati itu tiada lain dari penundukan rasa ke-diri-an kita yang semu ini, yang termanifestasi sebagai ahamkara atau egoisme ini. Egoisme inilah sumber kekuatannya. Saking telah sedemikian menjadi-jadinya dia, sedemikian dig-jayanya dia, sejak tak terhitung banyaknya kelahiran dan kematian yang telah teralami, dia menjadi amat sangat sulit untuk ditundukkan. Betapa tidak; kita telah menobatkannya sebagai diri kita sendiri. Ia akan berkata: "Mengapa engkau hendak menundukkan-ku? Aku bukan musuhmu; akuilah kamu itu adanya. Bukankah kamu ingin menjadi
dirimu sendiri? Apa kamu sudah sedemikian gendengnya sekarang?".

Makanya, jangankan untuk menundukkannya, sekedar untuk menyadari bahwasanya selama ini kita ada da am cengkraman, jajahan dan perbudakannya saja, tidaklah mudah. Mung-km.sesekali, saat kita merenung, atau membaca kitab-kitab suci, atau saat menerima wejangan dari seorang Guru kita dibuat sadar. Tapi itu hanya sebentar saja. Segera setelah kembali ke dunia ramai, mengadakan kontak sosial dalam kehidupan duniawi lagi, dia segera mencengkram kita kuat-kuat lagi.

Hanya ia yang benar-benar sadar dan benar-benar memahami segala ikhwalnya-Kshetrajna-atau ia yang sedemikian dekatnya dengan-Nya, selalu ada di bawah bimbingan-Nya, dimana segala bentuk tindakan, uqapan dan pemikirannya hanyalah dalam rangka memenuhi perintah dan mematuhi petunjuk-petunjuk-Nya sajalah yang punya kapasitas penuh untuk menundukkannya. Dan di dalam Bharata Yuddha, sosok yang demikian, yang segala bentuk tindakan, ucapan dan pemikirannya hanyalah dalam rangka memenuhi perintah dan mematuhi petunjuk-petunjuk-Nya kita kenal sebagai Arjuna beserta ke-empat saudara-saudaranya itu. Arjuna lebih memilih Sri Krishna untuk mengusiri-nya, ketimbang seluruh bala tentara berikut segenap persenjataan dan peralatan perang, yang oleh Duryodhana-yang menyimbulkan ahamkara-diang-gap sebagai-pilihan bodoh.

Si diri tidak akan dengan mudah melepaskan cengkraman, penjajahan dan perbudakannya atas siapapun. Walaupun sudah begitu tipis dan lemah lantaran terus-menerus melaksanakan niskama-karma, para dewa pun masih dicengkramnya.

Hendak 'memenangkan Dharma atas Adharma'?

Secara ekstrim, ada dua kutub pandang di dalam memaknai diri atau keberadaan kita ini. Ada yang memandang dirinya sebagai 'raga yang berjiwa', dan ada yang memandang dirinya sebagai 'jiwa yang ber-raga'. Ini sangat mendasar sifatnya bagi kita, terlebih lagi bagi mereka yang berhasrat kuat untuk 'memenangkan Dharma atas Adharma'. Nah... pada kutub mana Anda berada? Andalah yang semestinya paling tahu.

Yang memandang dirinya sebagai 'raga yang berjiwa', baik secara sadar maupun tak-sadar, akan mengi-dentifikasikan-dirinya sebagai raga ini; dan oleh karenanya, juga akan mempo-sisikan-dirinya lebih berat pada raga ini, pada badan wadag ini, pada jasad atau jasmani ini. Sedangkan yang memandang dirinya sebagai 'jiwa yang ber-raga' akan bersikap sebaliknya.

Agaknya ada benarnya, kalau dikatakan sebagian besar dari kita masih berada dalam persimpangan, terposisi-kan di antara keduanya, atau sedang dalam perjalanan menuju pemantapan kesadaran diri berkedip-kedip, layaknya lentera minyak yang hampir habis minyaknya dan diganggu oleh kencangnya hembusan angin. Kadang tampak menyala, kadang redup, bahkan kadang padam. Sangat jarang, dan hanya dalam kesempatan-kesempatan khusus tertentu saja ia kelihatan menyala, untuk kemudian redup lagi. Inilah persoalan sesungguhnya dari yang berhasrat kuat untuk 'memenangkan Dharma atas Adharma'.

Sekedar sebagai contoh; saya kira kita semua sudah begitu akrab dengan istilah naluri dan intuisi. Setidak-tidaknya, kita tahu kalau mereka merupakan dua proponen batin manusia yang penting, disamping yang lainnya. Kita juga sering mendengar-atau bahkan menggunakan -istilah 'naluri bisnis', 'naluri bertahan-hidup' (survival insting), dan yang sejenisnya. Disini, naluri merupakan representasi dari kesadaran 'raga yang berjiwa' kita, dan intuisi merupakan representasi dari kesadaran 'jiwa ber-raga' kita. Oleh karenanya, tidaklah tepat kalau kita menyebut: 'intuisi-bisnis' (business intuitim), 'intuisi bertahan hidup' {survival intuition), atau yang sejenisnya.

'Memenangkan Dharma atas Adharma' pada diri kita masing-masing, adalah kemenangan sejati itu. Ia bukan sekedar masalah etika-moral (susila), ia bukan sekedar mengutamakan kebajikan dan menghindari kezoliman, memenangkan kebenaran atas kebatilan. Ini menyangkut sesuatu yang amat sangat mendasar, menyangkut adhyatma-jnana dan tattwa-jnana, menyangkut pemahaman akan Sang Diri-Jati dan pemahaman akan hakekat dari segala sesuatu, yang merupakan pilar-pilar kokoh dari Kesadaran Diri-Jati, Realisasi Diri-Jati.

Oleh karenanya, kalaupun ada yang perlu disesali oleh mereka yang selama ini merasa dirinya sebagai para pejuang atau pembela Dharma, padahal sama sekali tanpa kesadaran-diri, dan masih kuat diselimuti acetana, maka kebodohan inilah yang paling patut untuk disesali. Sebab kbndisi ketidakpahaman total akan kesujatian-acetana atau ajnana-inilah kekalahan mutlak itu adanya, inilah kegelapan, peteng, yang akan menyeret dan terus-menerus mengombang-ambingkan kita di samudra Samsara ini. Sementara itu, kesadaran (cetana) dan pengetahuan sejati (jnana) adalah terang, galang, dan hidup itu sendiri. Sebaliknya, ketidaksadaran (acetana) dan ketidaktahuan (ajiiana) adalah gelap, peteng, dan kematian itu adanya. Mereka yang telah' sadar, tahu, dan telah mencapai penerangan rokhani juga adalah para pemenang, dan oleh karenanya layak untuk menikmati dan merayakan kemenangan itu pada Hari Raya Galungan.

Mujurnya adalah, seperti yang terpapar pada sloka Gita di awal tulisan ini, walaupun kita tanpa pengetahuan sejati, namun segera ikutan memuja dan sepenuhnya mengabdikan diri kepada-Nya-dan tidak lagi mengabdi kepada si diri semu-setelah mendengar wejangan tentang semua itu dari orang lain, dari yang bijak atau dari seorang Guru terpercaya, juga dipastikan oleh Krishna bisa melampaui kematian atau ketidaksadaran total (atitaranty eva mrtyum), yang juga berarti boleh ikut menikmati kemenangan itu.

Disini tampak jelas, betapa Hindu menyediakan beraneka alternatif marga untuk dijalani sesuai dengan bakat dan kecenderungan dari kebanyakan manusia, di dalam menapaki 'jalan terang-galang' ini. Kita tidak akan pernah mendengarkan dan - secara dogmatis - dipaksa untuk meyakini bahwa hanya marga yang sedang kita tekuni sajalah satu-satu jalan yang bisa mengantarkan kita kepada-Nya.

Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 457 Pebruari 2015