JANA NAJA 'Manusia Malu'

Kata जन (jana) adalah kata Sanskerta  yang berarti “manusia”. Kata “jana” berasal dari suku kata yakni suku kata ja yang mendahului suku kata na. Jika suku kata na mendahului ja, maka akan menjadi kata  Sanskerta नज (naja) yang artinya “malu”. Jika kita mengucapkan kedua suku kata ini secara berulang-ulang, maka kedua kata tersebut akan saling melengkapi (ja-na-ja-na-ja-...dst.). Demikian pula dengan maknanya, jana (manusia) akan sempurna jika dilengkapi dengan naja (rasa malu).

Rasa malu yang dimiliki oleh manusia saat ini sudah semakin luntur. Banyak wanita yang mirip pria, sementara ada pria yang tingkahnya seperti wanita. Di sisi lain banyak hal-hal yang semestinya tidak pantas diperlihatkan di muka umum, kini seolah sudah menjadi tontonan yang lulus sensor. Misalnya cara berpakaian, cara bertutur kata, termasuk gaya berpacaran yang kebablasan.

Bahkan produk seni budaya dan tradisi yang dulu penuh dengan nuansa estetik yang berbalut etika, kini telah berubah menjadi erotik yang berbulu estetik dan cenderung menjauhkan diri dari konsep etik. Mungkin ingatan kita belum hilang atas kasus “joged bumbung” di Bali beberapa waktu lalu yang nyaris menampilkan adegan pornoaksi dan di depan khalayak ramai.

Salah satu penyebab adanya beragam fenomena tersebut adalah pudarnya atau bahkan hilangnya rasa malu dalam diri manusia saat ini. Urat malu yang sudah putus ini akan menyebabkan manusia melakukan tindakan-tindakan bodoh dan tidak peduli atas harkat dan martabatnya. Ironisnya di zaman sekarang justru banyak kalangan yang konon disebut “cendekiawan dan terhormat” justru melakukan tindakan-tindakan bodoh, memalukan, dan tidak terhormat.

Dalam kehidupan beragama Hindu pun kita juga bisa melihat aksi-aksi melakukan yang dilakukan oleh mereka yang sebenarnya layak dihormati. Dalam beberapa dekade pada perhelatan Mahasabha yang dihadiri oleh “para parisad (orang-orang terhormat)” di seluruh Indonesia juga sempat ternoda oleh aksi memalukan para pesertanya. Sangat disayangkan sesungguhnya jika mereka yang disebut sesepuh oleh umatnya dan bahkan ada yang sudah menyandang gelar paṇḍita harus “mempermalukan diri” dan dipermalukan dalam forum sebesar itu.

Oleh karena itu di sinilah pentingnya menghadirkan rasa malu dari dalam diri kita sebagai manusia. Supaya rasa malu itu bisa menjaga harkat dan martabat kita sebagai manusia, ibarat pakaian yang menutupi dan menjaga kehormatan “kemaluan” kita. Jika “kemaluan” kita terbuka atau terlihat maka kita sedang dalam proses menuju atau menuju “malu” (ke malu-an).

Malu itu milik semua manusia tanpa pandang bulu, bilik, balak, dan baloknya. Sepanjang manusia itu bisa memahami dan menggunakan “rasa” kemanusiaanya maka malunya akan tumbuh dengan sendirinya. Sebagaimana telah disinggung dimuka pada pemaknaan kata jana dan naja. Jika diutak-atik menggunakan “kata-matika”, maka akan ketemu sebagai berikut.

Ja, artinya lahir dalam konteks sastra (Jawa Kuna) lahir ini bisa dilambangkan dengan angka 1. Na, artinya tidak, kosong, atau luang, dalam konteks sastra bisa dilambangkan dengan angka 0. Jadi jana bisa dianggap melambangkan angka 10, dan naja melambangkan angka 01.

Angka 10 adalah representasi dari dasendriya (panca karmendriya dan panca buddhindriya) yang menjadikan manusia itu disebut baik atau buruk. Dan 10 indria ini harus dikendalikan oleh yang 01 yakni pikiran (manah) atau hati manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuscaya 80:

 

मनो हि मूलम् सर्वेसामिन्द्रियानम्प्रवर्तते । षुभाशुभस्ववस्थासु कार्यम्तत्सुव्यवस्थितम् ॥

(Pikirkan adalah asal mula indriya bekerja. Pikiran juga yang menetapkan untuk berbuat dalam segala hal, apakah berbuat baik atau buruk. Karena itu kendalikan pikiran itu)

 

Kata jana sendiri erat kaitannya dengan kata ज्ञान (JÑĀNA) pengetahuan. Ketika seseorang ingin memperoleh ilmu pengetahuan maka ia harus menjadi jana yang akan berupaya dengan 10 indria kita untuk menuntut ilmu dengan pendekatan 1 (manusianya) ke 0 (kosong) agar semuanya bisa terisi dengan ilmu. Setelah semua ilmu dalam menggunakan dan menempatkan dasendriya tersebut di dapat (terisi penuh) maka implementasinya adalah dengan pendekatan 0 (penuh isi) ke 1 (Yang Maha Tunggal). Dan 0 tersebut akan bisa mencapai 1 apabila di tambah dengan 1 hal yakni, rasa malu sebagai kendali dan representasi pikiran/hati manusia tersebut.

 

Dengan kata lain, setelah jana tersebut memiliki jñāna, maka si jana harus kembali naja, artinya kembali dia harus menggunakan “rasa malu” untuk mengendalikan ilmunya tersebut. Karena bagaimana pun juga ilmu itu perlu pengendalian sebagaimana disebutkan dalam petikan Canakya Nitiśāstra V.9 yang menyebutkan: विद्या योगेन रक्षते (ilmu pengetahuan itu harus dijaga dengan mengendalikannya). Dan dengan “rasa malu” ini maka orang yang berilmu akan mengendalikan ilmunya, sehingga ia akan berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan bertindak.

 

Menyimak hal tersebut maka kita perlu memahami sebuah ungkapan dalam bahasa Sanskerta yang menyebutkan: जनः नजते भवत् (esensi dari manusia itu ada pada rasa malunya).  Pada prinsipnya ungkapan ini merupakan nasehat untuk setiap manusia agar memiliki malu kepada Tuhannya terutama dalam kesendiriannya. Kita merasakan ketika sendiri, peluang untuk melanggar itu lebih besar ketimbang bersama orang lain, meskipun anak kecil yang melihatnya.

 

Oleh karena itu rasa malu minimal kepada Tuhan itu diharapkan dapat menjadi penghalang seseorang untuk berbuat asusila atau pun tindakan keji lainnya. Ingatlah bahwa Tuhan mengetahui dan melihat semua ucapan dan tindakan kita, bahkan ketika ucapan dan tindakan kita itu masih ada dalam niat kita.

 

Untuk menumbuhkan rasa malu tersebut, maka ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Pertama, rasakan bahwa kita senantiasa bersama Sang Suratma (Roh Ketuhanan yang selalu melihat kita). Dan kita harus juga harus sadar bahwa apapun yang kita lakukan Sang Brahman selalu melihatnya karena beliau adalah Maha Saksi.

 

Kedua, percaya pada karmaphala. Segala sesuatu yang kita lakukan itu akan berbuah. Dan kita akan memetik buah dari perbuatan itu. Jika kita sudah bisa menyadari ini maka rasa malu itu akan muncul.

 

Ketiga, menyibukkan diri kita dengan hal-hal yang baik (subha karma). Jika manusia selalu ingat untuk melakukan subha karma, maka dia akan menjauhi hal-hal yang tidak baik (maaf ini sebagai penganti kata buruk). Kita harus selalu positive thinking aja bahwa kita bisa baik, dan jangan sampai kita menjadi “tidak baik”.

 

Keempat, sering-seringlah mengingat Tuhan (Rāma) dan kematian (mara). Siapapun yang mengingat “Nama Rāma, maka dia juga ingat akan mara-bahayanya. Tubuh kita ini hanyalah alat untuk mencapai Brahman. Cepat atau lambat raga kita akan menjadi bangkai, dan kita akan kembali kepada Sang Maha Tunggal.

 

Ingatlah selalu ungkapan Jawa yang mengatakan “luwih bĕcik wirang, tinimbang kĕna waring”, artinya “lebih baik malu (wirang), daripada kita kena jaring (waring) atau tertangkap dan dipermalukan di depan banyak orang”.

 

Oleh: Miswanto
Wakil Sekretaris PHDI Provinsi Jawa Timur