'Kemerdekaan’ dari benang merah Kerajaan Hindu

Merdeka!
Kata ini tidak hanya berarti bebas, liberasi, tetapi juga raihan dari sebuah perjuangan (tapa) dari ketertindasan, pun keterikatan. Dengan kata lain, siapapun merasakan ketertindasan, hak azasinya yang paling hakiki, yaitu kebebasan, pasti sangat mendambakan kata itu bagai menemukan oase di gurun pasir. “Merdeka” mewakili hasrat primordial umat manusia. Tak heran, nyawapun rela dikorbankan.

Dalam kebebasan, kemerdekaan, manusia merasa sempurna. Jelas karena ia sadar dengan keterikatannya, ketidaksempurnaannya. Secara humasnistik, ketidaksempurnaan itu hanya mampu dikuliti perlahan dengan belajar (tapa) untuk memperoleh pengetahuan (jnana). Jnana inilah pengetahuan yang memerdekakan. Di sanalah letak kesempurnaan manusia.

Sejak mampu berpikir di dalam kandungan, manusia dihantui oleh ketidaksempurnaan itu, jelas karena selalu digoda suara-suara dan cerita (indah) dari luar kandungan seperti Abhimanyu, dalam kandungan Subadra, ia mendengar tentang cara menembus formasi Cakra. Ia mendengar segala suara dari luar, namun ia harus menyempurnakan pengetahuannya terlebih dahulu. Terkadang juga, ia ingin tahu dunia luar hingga sekuat tenaga ia menendang-nendang dinding rahim sang ibu. Abhimanyu merasa harus ke luar dari rahim sang ibu untuk menemui suara-suara di luar itu. Tubuhnya belum matang, sang bayi belum diizinkan ke luar oleh ibu (sang guru). Setelah matang, bukan sang bayi sendiri yang berusaha keluar, namun juga sang ibu harus mengeluarkannya, walaupun dengan sakit, perih, air mata, bahkan nyawa taruhannya (magantung bok akatih ‘batas hidup dan mati hanya sehelai rambut’). Dengan pembebasan itu, tidak hanya bayi, ibu juga merasakan kebebasan itu.

Itulah kesempurnaan bayi seperti Abhimanyu. Kesempurnaannya terletak pada pembebasannya dari rahim sang ibu, Subadra. Tubuh sang bayi sudah cukup matang. Sang bayi sudah cukup memiliki jnana tentang hidup di dalam kandungan selama Sembilan bulan. Pertapaannnya untuk menjadi manusia bayi telah sempurna. Ia pun ke luar dari gua pertapannya.

Setelah ke luar ia justru menangis – entah karena gembira bebas dari gelap di dalam kandungan, karena merasakan kebebasan, atau seketika mulai merasakan ketakutan. Ada kebimbangan. Yang jelas, ia menangis karena merasakan ketidak sempurnaan, ketidakbebasan, itu kembali.

Abhimanyu segera harus bertapa lagi, menyempurnakan tubuhnya. Terik dunia luar memaksanya berteduh kepada sang ibu, tangisan Abhimanyu pun mulai reda. Ibu Subadra begitu cantik sempurna, menyejukkan, menyediakan susu, kebutuhan pokok manusia sang bayi Abhimanyu. Begitu halnya dengan belaian lembut dan gendongan yang menghangatkan, ia pun terlelap. Di sisi ibu, manusia bayi merasakan kesempurnaan itu kembali seperti di dalam kandungan. Kemerdekaannya terlerak pada susu dan dekapan ibu.

Kemudian, setelah beranjak ke masa batita, lalu balita, karena sudah banyak belajar mengenai susu dari ibunya, Abhimanyu perlahan terbebas dari susu. Susu itu telah menjadi darah dan dagingnya. Abhimanyu pun menjadi semakin kuat, tubuhnya mulai mampu berdiri, perlahan berjalan, dan berlari. Bobot tubuhnya mulai berat, sang ibu tidak lagi mampu mengendong Subadra telah berhasil menjadi guru pertama bagi buah hatinya. Lalu hadirlah sosok sempurna yang ke dua, ialah sang ayah, Arjuna. Tanpa banyak kata, sang ayah begitu saja mengajaknya berlari, bermain, dan ketika lelah Arjuna menggendongnya dengan enteng di punggungnya. Berlari dan bermain di sisi ayah adalah kemerdekaan bagi anak-anak. Itulah cara belajarnya. Tanpa sadar, Abhimanyu belajar oleh tubuh dan memanah dari Arjuna.

Dengan mengikuti segala instruksi yang diberikan ayahnya, semangat menggebu karena bagitu asyiknya permainan memanah itu, ditambah dengna bakat turunan dari Arjuna, Abhimanyu melesat menjadi pemanah mumpuni menyaingi ayahnya. Bahkan, Arjuna kewalahan meladeni kemampuan memanah sang anak. Abhimanyu pun kembali merasakan kesempurnaan, ia merdeka dari permainan panah memanah, karena sudah menguasainnya.

Perlahan namun pasti, Abhimanyu beranjak dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Ia harus tinggal dengan ibu dan pamannya – Arjuna harus pergi ke hutan bersama Pandawa dan lainnya. Segera Abhimanyu berguru kepada sang pama, Krishna. Ia mendapat pengetahuan yang benar, karena berguru langsung kapada Yang Mahabenar. Karena belajar kebenaran dari Kebenaran itu sendiri dengan displin tinggi, Abhimanyu menguasai kebenaran. Kebenaran inilah yang belum dipelajari oleh sang ayah, Arjuna, sehingga ia gentar dan jatuh lunglai ketika melihat yang dihadapinya dalam perang adalah para guru dan para saudaranya. Kebenaran tentang tubuh dan jiwa.

Segala macam pengetahuan telah dikuasai oleh Abhimanyu. Ia merasa bebas, merdeka dari pengetahuan itu. Abhimanyu pun siap melaju ke medan perang. Ia bahkan siap menerjang formasi cakra tanpa ragu, walaupun ia sadar hanya belajar cara memasuki, belum pernah belajar cara ke luar. “Half knowledge is really dangerous”. Tahu setengah-setengah memang berbahaya. Abhimanyu akhirnya gugur, jiwanya meninggalkan tubuh, terhujan ribuan anak panah – berbeda dengan Bhisma, yang tidak gugur langsung setelah ribuan anak panah tertancap ditubuhnya (dalam kesempatan lain akan dibahas lebih lanjut).

Namun, bagi Abhimanyu kebenaran telah ia ketahui karena belajar dari Sang Penjaga Kebenaran, Yang Mahabenar. Ia telah menguasai pengetahuan sehingga ia merdeka dari pengetahuan. Tidak ada lagi yang harus diketahui, Abhimanyu telah lulus dari Yang Mahatahu. Ia merdeka dari tubuhnya karena telah belajar tentang tubuh dari Yang Mahatubuh (Wisnu). Tubuh itulah dharma kehidupan, dan sejarah manusia. Abhimanyu merdeka daro dharma karena telah belajar dari Dharma (Krishna) itu sendiri. Dharma itulah kerajaan Hindu. Dengan dharma itulah kemerdekaan dapat dicapai dalam segala sejarah. Jika dengan dharma, itu bukanlah kerajaan Hindu maupun kemerdekaan itu. Dharma itu sendiri adalah kemerdekaan, moksa. Begitulah sejarah kemerdekaan dalam kerajaan Hindu.
Merdeka!

Oleh: W.A. Sindhu Girananda
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017