Kuningan Kuning

"Ring Careke sane linggah, pantun nyane sampun kuning, I cetrung nglah pianak..."

Petikan geguritan diatas mengungkapkan kehidupan burung cetrung diantara warna padi yang telah menguning. Warna yang bermakna kematangan atau saatnya panen telah tiba, dimana para petani menyambut dengan gembira, saat yang ditunggu-tunggu oleh petani, namun bagi sekawanan burung yang bersarang diantara padi merasa cemas dengan kondisi ini, terlebih bagi mereka yang memiliki anak yang belum dewasa.

Ada rasa cemas bagi mereka (cetrung) yang tidak siap menerima hadirnya hari tua yang terdapat dalam warna kuning. Bagi orang bijak (si padi) sendiri warna kuning melambangkan kematangan dan kesiapan untuk memberi pada sesama. Sedangkan bagi para yogi (petani) warna kuning adalah hasil dari kerja panjang dimana bulir-bulir pahala dari proses yoga yang panjang mencapai puncaknya.

Lain halnya dengan petani dan cetrung, dalam kidung aji kembang terdapat wejangan bagi sang sang roh sebagai berikut: Ring pascima tunjunge jenar, Maha Dewa Dewatannya, Ring ungsilan pernahira, Alinggih sira kalihan, Pantesta kembange jenar, Ring tembe lamun dumadi, Tur sira sura ring rana, Prajurit wetang aji. (Dibarat teratai kuning, Dewatanya Maha Dewa, pada ungsilan tempatnya pada tubuh, duduk berdua serasi pada singgasana teratai berwarna kuning, jika nanti lahir kembali, pemberani dimedan perang, tekun pada tapa bratha dan berbudi luhur).

Dalam Dewata Nawa Sangga warna kuning merupakan symbol Dewa Mahadewa dengan urip 7, saptawara rabu, pancawara pon, kendaraan naga, senjatanya naga pasah dan aksaranya Tang. Seseorang yang menjadi bhakta Mahadewa ketika meninggal akan memperoleh pahala Dewa Stana sampai pada alam Mahadewa (Paguron Suling Dewata).

Kuning menjadi begitu istimewa manakala umat Hindu merayakan hari raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu Kliwon Wuku Kuningan. Seperti yang dikutip dalam Sundarigama bahwa pada saat Kuningan persembahan kehadapan Hyang Paramestiguru; canang wangi-wangi, canang pasucian, cangan raka, sodan, penek kuning lauk kuning telur dipersembahkan sebelum tegah hari.

Suasana kuningan dalam masyarakat Hindu didominasi oleh warna kuning, mulai dari jejaitan menggunakan janur kuning, tumpeng nasi kuning, hingga wastra (kain) kuning dimana secara keseluruhan melambangkan kesejahteraan jagat. Dengan demikian warna kuning dihari kuningan merupakan sebuah lambang anugerah kesejahteraan lahir bathin bagi seluruh dunia. Juga merupakan pesan bagi setiap insan untuk mengusahakan dan menebarkan kesejahteraan dimanapun ia berada sehingga tercipta suasana swasti (sehat), santih (damai) dan santosa (sejahtera).

Menurut psikologi warna konon warna memiliki korelasi dengan karakter seseorang. Sehingga sebuah institusi bisnis biasanya mempunyai corporate color, sebuah negara juga memiliki color of nation yang umumnya tercermin pada bendera nasional mereka. Demikian pula partai-partai politik menggunakan simbol-simbol warna untuk menunjukkan identifikasi dan eksistensi di benak para pengikutnya.

Darwis Triadi, seorang fotografer terkenal di negeri ini di dalam bukunya "Color Vision" mengungkapkan bahwa: "Warna dapat menciptakan keselarasan dalam hidup. Dengan warna kita bisa menciptakan suasana teduh dan damai. Dengan warna pula kita dapat menciptakan keberingasan dan kekacauan. Menurut pendapatnya "Kuning memberi kesan kegembiraan, terang, cerah, bersinar, ketegasan. Menstimulus pandangan mata seperti warna Jingga. Apakah kuningan yang kuning berpengaruh pada pikiran anda? Mari renungkan sejenak.

Source : I Gede Adnyana, S.Ag l Wartam Edisi 12 - Pebruari 2016