Manajemen Tri Hita Karana Era Millenium

Manajemen yang kita kenal dewasa ini adalah hasil produk Barat yang sifatnya individualistis, kapitalistis, dan profanis. Sifat individualistis tercermin dalam usaha pebisnis yang umumnya menempatkan kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri sebagai hal yang paling utama atau paling primer sedangkan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama ditempatkan dalam posisi kepentingan sekunder. Sifat kedua dari bisnis Barat adalah bersifat kapitalis yang berarti proses manajemen lebih mengejar dan mengutamakan efisiensi untuk mencapai keuntungan setinggi-tingginya. Kecenderungan ini muncul karena sifat ketiga dari bisnis Barat adalah profanes, yakni sifat yang memnggalkan nilai-nilai religius.

Dalam perspektif Hindu di era millennium seperti saat ini, kegiatan manajemen seyogyanya tetap dan harus didasarkan kepada keagungan local genius yang sudah lama menjadi konsep harmonisasi, yaitu Tri Hita Karana, yang mengutamakan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam sekitarnya. Sehingga dalam hal ini pelaksanaan manajemen harus selalu mempertimbangkan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan duniawi dan kebutuhan yang bersifat sorgawi (religius).

Prinsip keseimbangan hubungan dan tanggung jawab antara manusia dan Tuhan (Hyang Widhi), disebut Prinsip Parahyangan, yang meliputi:

1) Dharma sebagai dasar aktivitas bisnis. Dharma merupakan nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan yang bersumber dari ajaran agama maupun dari konsensus dan kesepakatan manusia sendiri, dimana dharma itu sendiri merupakan dasar bagi seluruh aktivitas bisnis. Dharma dalam hal ini menjamin kepastian dan tertib hukum bagi aktivitas manusia di dalam proses pencapaian tujuan. Kitab Suci Veda menegaskan bahwa Hyang Widhi akan memberi karunia kebahagiaan baik dunia maupun akhirat kepada mereka yang senantiasa melaksanakan Dharma (Rgveda, I.125.6; Rgveda, VII.32.8; Rgveda, X.107.2).

2) Kerja adalah pengorbanan dan pengabdian (Yajna dan Ngayah). Ajaran Karma Yoga menekankan bahwa hanya dengan bekerja (karma) manusia dapat mencapai tujuan dan hakekat hidup. Selama hidupnya manusia tidak dapat menghindarkan diri dari kerja. Berpikir (manacika), berbicara/berkomunikasi (wacika) dan melakukan kegiatan fisik/teknis (kayika), adalah bentuk-bentuk kegiatan atau kerja. Dalam pandangan Hindu, kerja merupakan sesuatu yang sangat esensial di dalam kehidupan manusia. Hanya melalui kerja yang baik (subhakarma) manusia dapat menolong dirinya dari penderitaan hidup (samsara) dan mencapai kebahagiaan abadi (moksa) yang merupakan insentif moral bagi umat Hindu kearah ketekunan, kegigihan dan produktivitas. Jika Descrates mengatakan “Aku berpikir maka aku ada”, maka ajaran Hindu menambahkan dengan unsur “Aku bekerja maka aku ada”, atau dalam konteks ini manusia adalah homo laborans (manusia yang bekerja).

Prinsip keseimbangan hubungan dan tanggung jawab antar sesama manusia, atau Prinsip Pawongan, dimana pikiran menjadi sumber perangsang segala tindakan atau perilaku manusia dalam hidupnya. Seseorang akan memperoleh sukses dalam bisnis, baik dalam dunia maupun akhirat, bila ia mengambil inisiatif dan mengembangkan kreativitas untuk menciptakan hal-hal yang baru (inovasi). Hal ini akan mampu menghantarkan seseorang atau sekelompok orang kearah peningkatan efisiensi dan efektivitas kerja di segala bidang. Tanpa kerja orang tidak akan mencapai kebebasan dan juga tidak akan mencapai kesempumaan (Bhagawadgita, III.4), ini berarti hanya orang-orang yang giat bekerja, tulus hati dan tidak mengenal lelah akan berhasil dalam hidupnya (Rgveda, IV.4.12). Tuhan hanya menyayangi orang yang bekerja keras dan tidak pernah menolong serta membenci orang yang bermalas-malasan (Rgveda, VII.32.9 dan Atharvaveda, XX. 18.3).

Prinsip keseimbangan hubungan dan tanggung jawab antara manusia dan alam sekitamya, atau prinsip Palemahan, diantaranya adalah manajemen berwawasan lingkungan. Keberadaan manusia maupun organisasi tidak uapat terlepas dari lingkungannya (pengarah alam sekitamya). Konsep lingkungan alam menurut pandangan Hindu, yakni Panca Maha Bhuta, artinya alam terdiri dari lima unsur utama, yaitu: tanah, air, udara, api, dan ruang. Kelima unsur tersebut berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan perilaku manusia didalam kehidupannya baik secara individu maupun kelompok/ organisasi yang hams selalu dijaga kelestariannya, terlebih kegiatan bisnis karena alam jagat raya ini akan terus menjadi sumber kehidupan manusia (Bhagawadgita, III. 10).

Mengkaji makna dan hakekat kerja menurut pandangan Hindu dapat diawali dengan menangkap makna dan hakekat nilai-nilai kerja dalam Pustaka Suci Veda, yang intinya bahwa Tuhan (Hyang Widhi) memerintahkan manusia untuk bekerja seperti yang telah ditentukan, tanpa kerja orang tidak akan mencapai kebebasan dan kesempumaan (Bhagawadgita, III.4.5.8). Perintah tersebut mempunyai makna yang dalam tentang bagian dari manajemen yaitu etos kerja dalam Hindu, yakni: (1) kerja itu adalah perintah Tuhan dan hukumnya wajib, (2) keberadaan manusia terletak pada kerjanya, (3) dalam Hindu pembagian kerja dalam kehidupan manusia adalah sangat esensial, (4) manusia hams disiplin dan tekun bekerja pada posisi yang telah ditentukan secara produktif sehingga bermanfaat bagi hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta, (5) manusia tidak dibenarkan melakukan kerja asal-asalan, acuh tak acuh, seenaknya tanpa memperdulikan orang lain, menyalahgunakan kekuasaan dan lain sebagainya.

Oleh: Prof Raka Suardana
Source: Majalah WARTAM Edisi 38, April 2018