Mempertimbangkan 'Gugon Tuwon'

Beragama bagi sejumlah kalangan adalah takdir sosial Faktanya, nyaris tidak seorangpun memilih agama ketika ia lahir. Seseorang memeluk satu agama tertentu karena agama orang tuanya, kemudian ia dibesarkan dalam lingkungan agama tersebut.

Konversi religius niscaya terjadi, ketika seseorang mulai berkembang pengetahuan dan sikap kritisnya sehingga dapat menilai serta memilih agama yang dipandang paling pas baginya. Sebagian lagi memilih agama karena paksaan situasi, misalnya perkawinan beda agama dan pengaruh misionaris agama. Artinya, sebagian besar umat beragama dibentuk oleh tradisi keagamaan yang ternaturalisasi dalam kehidupan keluarga dan sosialnya.

Tradisi adalah kebenaran masa lalu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kebenaran sebuah tradisi dipercaya oleh masyarakat pendukungnya pada satu generasi karena mengandung nilai yang dianggap berharga bagi kehidupan mereka. Apabila nilai tersebut dipandang tidak sesuai lagi dengan semangat zaman, maka generasi berikutnya akan mempertimbangkan tradisi tersebut. Dengan kata lain, bertahantidaknya sebuah tradisi tergantung pada pertimbangan masyarakat pendukungnya terhadap nilai yang terkandung di dalamnya, serta kuat-lemahnya pengaruh nilai tersebut terhadap kehidupan mereka.

Pada umumnya, tradisi keagamaan memiliki tingkat kelembaman yang lebih tinggi dibandingkan tradisi non-keagamaan. Alasannya jelas karena tradisi keagamaan terintegrasi dengan nilai-nilai agama, yakni nilai yang paling mendasar bagi manusia religius. Apabila disepakati bahwa kepercayaan dan ketaatan adalah esensi agama, maka tradisi keagamaan mengandung seperangkat nilai yang memperkuat kepercayaan dan ketaatan tersebut. Oleh karena itu, tradisi keagamaan kerap diajarkan melalui klaim-klaim monologis bahwa tradisi wajib dijalankan, tanpa perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Wacana gugon tuwon yang akrab terdengar di kalangan umat Hindu adalah salah satu contohnya.

Dalam Bausastra Jawa (Purwadarminta, 1939:611), gugon tuwon (gugon-tuhon) adalah sebuah frase yang berarti "percaya pada sesuatu yang dianggap melampaui kodrat, padahal sesungguhnya tidak". Seturut dengan itu, Subalidinata dalam Sarining Kasusastran Jawa (1968:16) menyebutkan tiga jenis gugon-tuhon, sebagai berikut: (1) gugon-tuhon salugu, yakni petunjuk yang harus dipercaya, misalnya seorang anak dengan ciri kelahiran tertentu harus melaksanakan ruwatan agar tidak dimangsa Bhatara Kala; (2) gugon-tuhon pitutur sinandhi, yakni nasihat moral yang tersembunyi, misalnya tidak boleh menduduki bantal; (3) gugon-tuhon wewaler, yakni larangan yang tidak boleh dilanggar karena dapat berakibat buruk (pamali), misalnya kencing di tempat-tempat keramat. Jadi, gugon tuwon adalah jenis pengetahuan suprarasional, yaitu pengetahuan yang melampaui prinsip-prinsip rasionalitas manusia, tetapi dipercaya kebenarannya, bahkan menjadi acuan perilaku seseorang dalam kehidupannya.

Kepercayaan dan ketaatan seseorang untuk melaksanakan tradisi keagamaan secara gugon tuwon menjadi salah satu fenomena yang cukup akrab dalam kehidupan umat Hindu, khususnya di Bali. Upacara-upacara keagamaan, mitos-mitos lokal, dan tradisi keagamaan yang unik di beberapa daerah tidak seluruhnya dapat dijelaskan dengan akal-rasional. Ada sebagian kalangan yang menganggap bahwa semua tradisi keagamaan berdasarkan gugon tuwon tersebut berlandasarkan susastera agama Hindu. Sebaliknya, kelompok tradisional yang konservatif ingin mempertahankan tradisi-tradisi tersebut dengan berbagai alasan. Hal ini menegaskan bahwa kontroversi terhadap tradisi keagamaan berdasarkan gugon tuwon niscaya terjadi seiring dengan semakin kritisnya pemikiran umat Hindu. Menyikapi masalah tersebut, pemahaman terhadap teks dan konteks perlu dipertimbangkan secara holistik dan komprehesif.

Secara tekstual, Manawa Dharmasastra memberikan informasi penting mengenai kedudukan tradisi keagamaan dalam agama Hindu. Dalam Manawa Dharmasastra, II.6., disebutkan bahwa "Sruti (Catur Weda) adalah sumber utama dharma, selanjutnya Smerti (Wedangga dan Upaveda), Sila (perilaku orang-orang suci), Acara (tradisi keagamaan), dan Atmanastuti (kepuasan pribadi)". Boleh jadi, tradisi keagamaan yang berdasarkan gugon tuwon merupakan buah transformasi ajaran sila, acara, dan atmanastuti.

Umat Hindu menerima pandangan bahwa perilaku orang suci (sila), baik pikiran, perkataan, maupun perbuatannya, dapat dijadikan salah satu acuan dalam melaksanakan ajaran agama. Mengingat orang suci diyakini telah memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya. Dalam kedudukannya sebagai loka-pala-sraya (tempat umat bersandar), umat Hindu dapat meminta petunjuk kepada orang suci mengenai aktivitas keagamaan yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sosio-religiusnya. Oleh karena itu, banyak tradisi keagamaan yang 'hanya' didasari oleh petunjuk orang suci, dan umat Hindu melaksanakan begitu saja tanpa mempertanyakan lagi kebenarannya, bahkan menjadi tradisi melalui pengulangan tindakan secara terus-menerus.

Selanjutnya, acara yang dalam Bahasa Sanskerta menunjuk beberapa arti, seperti adat, kebiasaan, dan tradisi yang baik. Dalam sejarah perkembangannya, agama Hindu menerima berbagai tradisi lokal dan memuliakannya dengan ajaran agama. Fleksibilitas agama Hindu ini terbukti mampu mengintegrasikan agama dan budaya lokal dalam praktik keagamaan. Bukan merujuk pada Weda, melainkan mengalir dari Weda. Konsekuensi logis dari proses ini bahwa praktik keagamaan Hindu di berbagai daerah menunjukkan tradisi-tradisi keagamaan yang tidak dapat dirujuk langsung dalam teks Weda, tetapi niscaya dicari benang-merahnya dengan ajaran Weda. Kekurangmampuan umat Hindu dalam menemukan acuan tekstual inilah yang kerap menimbulkan persepsi bahwa tradisi keagamaan yang dilakukan hanyalah gugon tuwon belaka.

Sementara itu, Atmanastuti bertalian erat dengan kepercayaan pribadi dan ekspresi religiusitas umat Hindu. Ekspresi individu ini bisa muncul dari cara seseorang memahami teks-teks suci keagamaan, pengalaman pribadi, atau refleksi atas tindakan orang lain. Hal ini dapat melahirkan tindakan keagamaan yang tidak sesuai dengan keumuman, bahkan oleh sejumlah pihak dikatakan menyimpang. Akan tetapi, ketika tindakan keagamaan seperti itu dirutinisasi dalam kehidupan praksis sehari-hari, maka bukan tidak mungkin akan berubah menjadi referensi sosial. Suatu tindakan keagamaan yang dilakukan tanpa referensi tekstual tentu akan menjadi tradisi keagamaan berdasarkan gugun tuwon, juga karena tidak adanya argumentasi rasional untuk menjelaskan tindakan tersebut.

Kitab Manava Dharmasastra memberikan justifikasi tekstual bahwa tradisi gugon tuwon niscaya terjadi dalam praktik keagamaan Hindu yang mengadaptasi berbagai elemen budaya di luar teks keagamaan. Walaupun begitu, sikap kritis umat Hindu terhadap tradisi kegamaan berdasarkan gugon tuwon, juga harus dipertimbangkan. Legitimasi tekstual itas dalam keberagamaan masyarakat modern yang semakin rasional menjadi begitu penting, baik untuk memperkuat kepercayaan dan ketaatan pribadi maupun dalam dialog lintas-agama. Apalagi dalam pengamatan empiris, tidak sedikit umat Hindu merasa malu atau kurang percaya diri, ketika dikatakan hanya 'beragama tradisi'.

Penting kiranya memahami kembali keberadaan dan fungsi gugon tuwon dalam pewarisan tradisi keagamaan. Gugon tuwon tampaknya dipilih menjadi metode pewarisan tradisi keagamaan untuk memastikan bahwa tradisi tersebut mengandung kebenaran yang harus dipercaya dan dilaksanakan. Internalisasi sikap keagamaan melalui gugon tuwon yang dibingkai dalam wacana perintah, larangan, dan sanksi rohani, tampaknya bertujuan untuk menyentuh hal yang paling esensial dari agama, yakni kepercayaan dan ketaatan umat. Kini, tugas umat Hindu adalah menjelaskan tradisi keagamaan berdasarkan gugon tuwon tersebut dengan membaca, memaknai, dan mengapresiasi teks-teks keagamaan Hindu yang relevan sehingga sraddha dan bhakti umat Hindu kian mantap. Upaya ini tentu akan lebih produktif dan bermanfaat, daripada tenggelam dalam perdebatan tentang gugon tuwon yang tidak jelas ujung-pangkalnya. Rahayu...!

Oleh: Nanang Sutrisno
Source: Majalah Wartam/Edisi 24/Februari 2017