Merancang Landepnya Pendidikan Hindu

Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional jelas disebutkan bahwa "Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara".

Namun, dalam konteks Hindu sampai saat ini penulis belum pemah menemukan atau membaca pengertian pendidikan Hindu secara rigit. Akan tetapi secara implisit ada beberapa isi sloka di dalam kitab suci Veda yang dapat ditafsir memiliki kedekatan dengan pemahaman pendidikan Hindu. Misalnya, dalam kitab Atharva Veda (Av. XI.5.12) disebutkan:

"... brahmacari sincati sanau retah prthivyam tena jivanti pradisas catasrah”.

Artinya:
"Brahmacarin menggunakan daya kejantannya di permukaan bumi ini, dan dengan demikian alam semesta ini berdiri tegak”.

Jika isi sloka tersebut dimaknai secara lebih luas kira-kira mengandung makna bahwa manusia yang memiliki pencerahan (baca: pendidikan) dan budaya spiritual merupakan pusat kehidupan yang lebih mulia, dan dari dalam dirinya memunculkan kekuatan inspirasi spiritual. Dengan kekuatan spiritualnya itulah Brahman yang berdiam di dalam diri Brahmacarya (orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan) akan selalu memunculkan kekuatannya untuk menopang alam semesta agar tetap berputar sesuai dengan hukumnya. Jadi, dalam konteks Hindu pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu upaya yang dapat menjadikan seseorang untuk memperoleh kehidupan yang lebih mulia, dalam hal ini yang dimaksud kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang cerdas secara spiritual, emosional, sosial, dan intelektual, sehingga dalam kehidupannya dapat mencapai keseimbangan antara kehidupan jasmani dan rohani. Dalam kehidupan yang seimbang (harmonis) inilah seseorang akan dapat menegakan kehidupan yang sesuai dengan tata nilai, hukum, dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan di dunia ini.

Selain sloka tersebut, dalam kitab Sarasamuscaya 27 juga disebutkan:

"Yuvaiva dharmmamanvicched yuva vittam yuva srutam
Tirtyyagbhavati vai dharbha utpatam na cavidyati"

Artinya:
Karenanya perilaku seseorang hendaklah digunakan sebaik-baiknya ketika masih muda, sebab selagi badan sedang kuat-kuatnya, maka sebaiknya digunakan untuk usaha menuntut dharma, artha, dan ilmu pengetahuan, sebab kekuatan orang tua tidak sama dengan kekuatan anak muda, seperti ilalang yang sudah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi.

Sloka dalam kitab Sarasamuscaya tersebut sebenamya merapakan suatu bentuk pencerahan (pendidikan) kepada generasi muda, para sisya, atau para mahasiswa agar menggunakan waktu mudanya dengan baik untuk menuntut ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya atau mengikuti jenjang pendidikan yang setinggi-tingginya. Hal ini penting sebab dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, manusia dapat memecahkan berbagai persoalan hidup yang dihadapinya. Dalam konteks ini masyarakat Hindu, khususnya di Bali secara konseptual memiliki nilai kearifan tradisional, berupa bagaimana merancang landep-nya pendidikan, sehingga mereka yang memiliki pengetahuan dengan mudah dapat mengupas berbagai persoalan hidup yang dihadapinya.

Misalnya, peringatan hari suci "Tumpek Landep” yang dilakukan oleh umat Hindu, khususnya di Bali setiap hari Saniscara Kliwon Wuku Landep (210 hari) sekali, merupakan suatu nilai kearifan tradisional yang dapat diterjemahkan sebagai upaya untuk merancang landepnya pendidikan Hindu. Dikatakan demikian sebab kata landep dalam kaitannya dengan perayaan hari suci "Tumpek Landep" kurang lebih dapat diartikan sesuatu yang tajam. Dengan demikian jika dimaknai secara lebih luas, perayaan hari suci "Tumpek Landep" merupakan tonggak penajaman, citta, budhi, dan manah (pikiran).

Artinya, melalui peringatan hari suci ”Tumpek Landep” umat Hindu diharapkan selalu berperilaku berdasarkan pikiran yang tajam, jemih, dan harus berlandaskan nilai-nilai agama. Jadi, dengan pikiran yang tajam, jemih, dan suci, umat Hindu mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Satu-satunya jalan untuk bisa menajam-kan citta, budhi, dan manah (pikiran) ini adalah melalui proses pendidikan.

Berangkat dari persoalan itulah, sesungguhnya umat Hindu sejak jaman dulu kala telah meyakini bahwa citta, budhi, dan manah (pikiran) manusia itu dapat diasah atau ditajamkan melalui proses pendidikan. Melalui ketajaman pikiran (manah) citta, dan budhi ini pula umat Hindu yakin bahwa manusia mampu menciptakan berbagai bentuk peralatan seperti, motor, mobil, computer, dan berbagai bentuk peralatan lainnya, yang pada esensinya dapat memudahkan dirinya dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Dengan demikian, tidak berlebihan jika dalam perwujudanya, umat Hindu dewasa ini mengupacarai berbagai bentuk peralatan yang telah diciptakannya tersebut. Hal demikian tidak dapat dikatakan bahwa umat Hindu menyembah berbagai peralatan yang diupacarai seperti, motor, mobil, computer, dan berbagai bentuk peralatan lainnya. Akan tetapi semua itu bermakna sebagai ungkapan rasa puja dan puji syukur kepada Tuhan Yanag Maha Esa, dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati yang telah melimpahkan ketajaman pikiran, citta, dan budhi kepada manusia, sehingga mampu menciptakan peralatan seperti itu.

Selain mengupacarai berbagai peralatan, umat Hindu juga melakukan persembahan di pura, merajan, dan kahyangan lainnya dengan maksud untuk memohon kesucian pikiran kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Wisesa, sehingga timbulah Budhi-sattwam yang dapat mengakibatkan kesempumaan dan keselamatan dunia dengan segala isinya. Jadi, jika dicermati secara seksama sesungguhnya umat Hindu banyak memiliki nilai kearifan lokal, nilai kearifan tradisional, dan nilai-nilai kearifan sosial yang mengandung nilai-nilai pendidikan yang sangat tinggi.

Namun, dalam praktiknya nilai- nilai tersebut hanya dilaksanakan secara rutinitas tanpa pemaknaan lebih dalam, sebab sudah menjadi kebiasaan umat Hindu, khususnya di Bali dalam memaknai berbagai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur hanya berdasarkan sikap "mule keto” (memang begitu). Padahal jika dicermati sesungguhnya nilai-nilai kearifan lokal, nilai-nilai kearifan tradisional, dan nilai-nilai kearifan sosial tersebut mengandung makna filosofis dan makna simbolis yang sangat tinggi dan ini hanya dipahami oleh sebagian kecil masyarakat.

Oleh: I Ketut Suda
Penulis adalah Guru Besar bidang Sosiologi Pendidikan, Program Pascasarjana UNHI