Mulat Sarira Hangrasa Wani

Mulat Sarira Hangrasa Wani, merupakan pepatah Hindu Jawa yang dipopulerkan oleh Sultan Agung, raja Mataram. Merupakan bagian dari yang disebut tri brata atau sering juga disebut tri dharma yang terdiri dari (1) rumangsa melu handarbeni; (2) wajib melu hangrungkebi; dan (3) mulat sarira hangrasa wani.

Frasa mulat sarira hangrasa wani yang artinya disederhanakan menjadi “berani mawas diri” berkaitan dengan rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki) dan wajib melu hangrung-kebi (wajib turut serta membela kebenaran). Ketiga diktum tersebut menjadi satu kesatuan utuh dalam kendali mulat sarira angrasa wani (berani mawas diri) menurut ajaran agama Hindu.

Untuk apa manusia harus selalu mulat sarira angrasa wanil Pertanyaan ini berkaitan dengan jati diri manusia yang sesungguhnya menurut agama Hindu. Setiap makhluk, termasuk manusia menurut agama Hindu sesungguhnya berasal dari paramatman (Tuhan) yang maha besar. Bagian terkecil dari paramatman yang kemudian disebut atman, mewujud ke dalam setiap makhluk. Ibaratnya setetes embun yang berasal dari air laut yang maha luas, demikianlah atman meresap ke dalam setiap wujud makhluk hidup.

Pada diri manusia, atman diikat oleh panca mahabhuta sehingga berwujud sebagai manusia yang unsur-unsumya terdiri dari atman itu sendiri bersama pertiwi (tanah: zat padat), apah (air: zat cair), teja (api: panas), bayu (udara: angin), dan akasa (ether: hampa). Atman yang sesungguhnya merupakan bagian terkecil dari paramatman memiliki sifat-sifat identik. Sifat-sifat itu disebut asta aiswaiya yang terdiri dari anima (kecil sekecil-kecilnya), laghima (ringan seringan-ringannya), mahima (besar sebesar-besarnya), prapti (berada di mana-mana), prakamya (segala keinginan terwujud), isitwa (mengungguli segalanya), wasitwa (maha kuasa), dan yatrakamawasitwa (adikodrati).

Persoalan atman yang mengalami punarbhawa (reinkarnasi: tumimbal lahir), ialah keterikatan pada bentuk-bentuk semu yang tercipta dari unsur panca mahabhuta. Bentuk semu itu disebut dasendria yang terdiri dari panca budhindria (indria perasa) dan panca karmendria (indria penggerak). Panca Budhindria terdiri dari caksundria (rangsangan penglihatan: indera pada mata), srotendria (rangsangan pendengaran: indera pada telinga), ghranendria (rangsangan penciuman: indera pada hidung), jihwendria (rangsangan pencecapan: indera pada lidah), dan twakindria (rangsangan peraba: indera pada kulit). Panca Karmendria terdiri dari garbendria (penggerak pada mulut), panindria (penggerak pada tangan), padendria (penggerak pada kaki), payundria (penggerak pada organ pelepasan), dan upasthendria (penggerak pada alat kelamin).

Oleh panca mahabhuta, atman digoda untuk melupakan sifat asta aiswarya yang sesungguhnya melekat padanya melalui panca budhindria (indria perasa) dan panca karmendria (indria penggerak). Melupakan jati dirinya sebagai bagian terkecil dari paramatman dengan segala sifatnya. Kenikmatan semu yang diciptakan melalui dasendria itu mengakibatkan atman dalam keadaan lipya (lupa) akan jati dirinya.

Apakah manusia mampu menghindari godaan rangsangan penglihatan (caksundria), rangsangan pendengaran (srotendria), rangsangan penciuman (ghranendria), rangsangan pencecapan (jihwendria), dan rangsangan peraba (twakindria)? Apakah manusia mampu mengendalikan penggerak pada mulut (garbendria), penggerak tangan (panindria), penggerak kaki (padendria), penggerak organ pelepasan (payundria), dan penggerak alat kelamin (upasthendria)?

Itulah tantangan (chalenge) setiap diri manusia yang ditengarai tidak akan mampu mengendalikan dan larut dalam rangsangan panca budhindria (indria perasa) dan panca karmendria (indria penggerak). Itulah yang menjadi dasar apakah setiap individu berani menyelenggarakan mulat sarira (mawas diri)? Apakah mulat sarira angrasa wani (berani mawas diri) dan menyadari dan mengendalikan pengaruh dasendria?

Dalam keadaan biasa, dasendria hampir tidak mungkin dihindari. Gagodan melihat sesuatu (baik dan buruk) seakan tidak mungkin dapat dihindarkan. Demikian pula godaan mendengarkan yang merdu dan yang memekakkan, mengendus yang harum dan pengit, mencecap yang manis dan pahit, serta meraba yang licin dan kasar, hampir tidak mungkin bisa dihindarkan. Apalagi mengunyah makanan satwika dan caron, memegang'yang patut dipegang dan yang tak patut, berjalan ke arah yang baik dan buruk, menyudahi kehidupan dengan alasan dan tanpa alasan, bersenggama dengan tujuan membangun wangsa maupun masukan-sukan. Bisakah?

Itulah sebabnya mulat sarira angrasa wani (berani mawas diri) harus disertai rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki) dan wajib melu hangrungkebi (wajib turut serta membela kebenaran). Mawas diri harus disertai dengan rasa memiliki dan membela kebenaran mutlak. Subrata (teguh memegang kendali jati diri) harus disertai dengan sudira (membela sesama tanpa pamrih), dan akhirnya akan mencapai sudharma (berada dalam jalur dharma yang hakiki).

Diktum tri brata atau tri dharma itu (rumangsa melu handarbeni) merasa ikut memiliki; wajib melu hangrungkebi: wajib turut serta membela kebenaran; dan mulat sarira hangrasa want berani mawas diri. Merupakan sarana agar kembali kepada kesadaran atman yang berstana dalam diri pribadi merupakan ekses dari punarbhawa: reinkarnasi: tumimbal lahir. Pada saatnya atman harus meninggalkan aspek-aspek lahiriah (panca mahabhuta) yang menyebabkannya mewujud sebagai manusia. Kembali kepada jati dirinya yang merupakan setetes embun yang berasal dari samudra luas yang disebut paramatman.

Agar sampai kepada tujuan itu, maka diperlukan mulat sarira hangrasa wani (berani mawas diri). Bersamaan dengan itu, pengetahuan tentang atman seperti dijarkan oleh teks weda dan kitab-kitab upanishad diperlukan untuk dikuasai. Tidak hanya dikuasai, namun juga diamalkan melalui sadhana (latihan oleh rohani). Bila kesadaran terhadap jati diri melalui mulat sarira hangrasa wani terwujud, maka cinta kasih (ahimsa dan tatwamasi) sebagai mata air kesejahteraan dan kebahagiaan sejati.

Kesadaran kelahiran sebagai manusia menurut Kitab Ramayana, “Merupakan keberuntungan yang sangat besar mendapatkan wujud sebagai manusia. Semua kitab suci menegaskan bahwa wujud sebagai manusia sangat sukar didapatkan bahkan oleh para dewa sekalipun”. Oleh karena itu, mulat sarira hangrasa wani (berani mawas diri) diperlukan karena: “Wujud manusia merupakan sebuah batu pijakan menuju neraka, surga, atau moksa. Melalui tubuh ini (wujud sebagai manusia) seseorang bisa mendapatkan pengetahuan, ketidakterikatan, dan bhakti. Demikian nasihat Ramawijaya dalam kisah Ramayana.

Mulat sarira hangrasa wani (berani mawas diri) diperlukan karena menurut teks Siwaratri Kalpa, sesungguhnya pada saat berwujud sebagai manusia Sang Hyang tma kelangen, begitu terpesona dengan segala kenikmatan yang diperoleh oleh panca indria. Walaupun segala kenikmatan itu bersifat semu (maya) dan palsu. Sepanjang waktu berwujud sebagai manusia pikiran memberi ruang gerak yang leluasa kepada panca indria sehingga atman dalam keadaan dikendalikan. Lalu lipya (tidak sadar) dan akhirnya aturu bergelimang kenikmatan maya. Mata selalu ingin melihat wanita cantik dan pria tampan, hidung mengendus-endus bau harum, lidah selalu inin mencecap makanan yang nikmat, telinga mencari-cari suara merdu, dan kulit menikmati sentuhan-sentuhan kelembutan. Begitu dahsyatnya pengaruh kenikmatan duniawi ini, menyebabkan Sang Hyang tma kelangen dan terbelenggu dalam kesibukan untuk mengejar kenikmatan yang diciptakan oleh panca indria, lupa akan asal usul jati dirinya.

Sekali lagi menurut ajaran tri bratha atau tri dharma, mulat sarira hangrasa wani (berani mawas diri) yang dilandasi oleh rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki) dan wajib melu hangrungkebi (wajib turut serta membela kebenaran) diperlukan dalam rangka mencapai tujuan agama Hindu, yaitu mokhsartam jagaddhita ya ca iti dharma.

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Wartam Edisi 48 l Februari 2019