Penyucian Harta Melalui Dana Punia

Tiga paham yang melekat dalam kehidupan manusia pada zaman kali, yakni konsumerisme, hedonisme dan materialisme. Konsumerisme adalah paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, bahkan ukuran kesuksesan dalam hidup. Konsumerisme juga bisa diartikan sebagai gaya hidup yang tidak hemat. Hedonisme adalah kesenangan atau kenikmatan menjadi tujuan hidup manusia. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari segala sesuatu berlandaskan kebendaan semata dengan menge-nyampingkan segala sesuatu yang bersifat nonmateri, seperti jiwa, roh, cinta, dan yang sejenisnya. Orang-orang yang hidup berorientasi pada materi disebut materialis.

Ketiga paham tersebut merasuki kehidupan masyakat karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang lebih pesat daripada nilai etis, seperti agama, budaya, dan adat ketimuran. Oleh karena itu, nilai-nilai moral perlu dibangkitkan agar sekurang-kurangnya sejalan dengan perkembangan kemajuan teknologi yang mendorong pesatnya paham hedonisme, materialisme, dan konsumerisme. Dalam hal ini agama Hindu memiliki peran penting karena orang Hindu percaya bahwa kehidupan tidak hanya di dunia sakala (mayapada), melainkan juga ada kehidupan selanjutnya di dunia niskala (akherat). Tentu yang ingin dituju setiap manu-sia Hindu di dunia niskala adalah kehidupan di nirwana atau surga.

Jika disadari oleh siapapun yang merasa beragama Hindu, maka akan percuma (sia-sia) di kehidupan mayapada berlimpah ruah dengan kesenangan duniawi (konsu-meristik, hedonis dan materialistik), namun di dunia niskala berada di dunia penderitaan (neraka) yang abadi. Lalu bagaimana cara menuju surga itu?

Dalam Bhagavad Gita. (XVIII.5) dinyatakan, "Yajna dana tapah karma na  tyajyam  karyam   ewa tat, yajno danam tapas caV wapawanani manisinam". Kalau dimaknai sloka itu secara sederhana, dapat diartikan bahwa untuk bisa mencapai  surga, seseorang perlu melakukan empat hal selama hidup di dunia, yakni {1)yad-nya; (2) danapunia; (3) tapa-brata; dan (4) karma yang baik.

Nah, salah satu dari keempat perbuatan baik yang dapat membawa kita menuju ke surga adalah melakukan perbuatan kedua, yakni dana punia. Danapunia atau sedekah harus diberikan tanpa mengharap balas jasa, dengan keyakinan sebagai tugas untuk memberikan kepada penerima yang patut misalnya, Guru Rohani (Nabe), Dang Acarya (Sulinggih), orang miskin yang terlantar, orang cacat, orang yang terkena musibah, tempat suci {Parhyangan), lembaga-lembaga sosial, rumah sakit, pasraman, dan sejenisnya. Dana punia seperti ini disebut satwikamsmrtam (BG.XVTI.20).

Dengan demikian, harus menjadi keyakinan bagi umat Hindu bahwa jika secara rutin mempersembahkan dana punia, maka perbuatan itu merupakan salah satu investasi atau bekal menuju surga. Selain sebagai investasi menuju surga, dana punia yang rutin dilakukan juga berfungsi untuk menyucikan harta benda (rejeki) yang diperoleh. Mengingat dengan dana punia sebagian harta yang kita peroleh akan masari.

Selain menyucikan harta benda, juga dana punia merupakan upaya efektif untuk berbagi. Hampir seluruh aspek kehidupan menuntut agar manusia membiasakan diri berbagi. Dengannya setiap orang bisa saling merasakan pengalaman masing-masing. Pengalaman dapat mempererat jalinan sosial, tempat manusia melangsungkan kehidupan. Ikatan sosial yang kuat adalah modal yang dapat menjamin rasa aman dan nyaman dalam kehidupan bersama. Betapa sederhananya lewat dana punia jaringan sosial dapat dibangun dengan lebih kuat sehingga kehidupan beragama menjadi lebih produktif.

Kehidupan beragama tidak semata-mata hanya berkaitan dengan Tuhan dan Dewa-Dewa, tetapi juga dengan alam dan sesama. Menjaga ketiga hubungan inilah kewajiban umat beragama, seperti kepercayaan umat Hindu kepada hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam akan memberikan kesejahteraan. Dalam hal ini danapunia sebagai kesukaan memberi dan berbagi menjadi cara indah untuk menata  ketiga hubungan tersebut. Kenyataannya, dunia sosial manusia dapat bertahan dan berlangsung secara tertib karena manusia memiliki kemampuan memberikan makna terhadap tindakan sosial dan berbagi nilai budaya. Kesukaan memberi dan berbagi inilah yang hendak dikembangkan melalui dana punia.

Dunia sosial yang harmonis seperti itu dapat menjadi dasar tindakan religius, yaitu keinginan  mengikatkan  diri I kembali kepada Tuhan. Arti- I nya, agama Hindu tidak memisahkan secara tegas antara dunia sekala  dan  dunia niskala. Melainkan dunia niskala yang dipandang suci mencerahi dunia sekala yang profan. Hubungan semacam ini secara efektif dapat dibangun memalui dana punia. Mengingat dalam pengertian dana punia tidak hanya mengandung ketulus-ikhlasan berkurban, tetapi juga menyerahkan diri seutuhnya dalam kurban itu sendiri. Dengan demikian, bukan hanya harta benda yang dapat disucikan lewat dana punia, tetapi juga sang diri sejati.

Source: Prof Raka Suardana I Wartam Edisi 2/April 2015