Sekilas Puja Mandala

Waktu terus berputar melingkar tiada henti. Dari satuan waktu terkecil disebut detik sampai yang terbesar disebut jam, hari sampai tahun. Begitupun lingkaran ia diawali oleh titik, terus menyatu sampai membentuk lingkaran untuh dan pada saatnya akan kembali pada titik semula. Lahir, hidup, dan mati itulah lingkaran kodrat manusia yang harus kita sadari. Lingkaran simbol kesempurnaan, ia berbentuk bulat namun bersudut, tak tampak sisi kaku yang membuat bosan, ia peniada dan pemisah garis. Hidup pun dilukiskan sebagai lingkaran, ia tak luput dari lingkaran waktu, antara pagi, siang, dan malam.

Tiap bagian waktu memberi kesan yang berbeda, berputar melingkar dan kembali keasalnya. Jika hidup adalah lingkaran, maka satu bagian dari kita baik jiwa maupun roh terambil, kita bukan lagi diri kita yang sempurna. Kita tidak lagi merasakan kesenangan yang utuh, dan lingkaran itu bukan lagi lingkaran yang terpatri. Hidup adalah titik awal dimana lingkaran itu tercipta. Tak ada kehidupan, maka lingkaran itu takkan tercipta. Berhentinya kehidupan, maka lingkaran itu terhapuskan. Maka, tiada artinya lagi titik-titik lain penyusun lingkaran, seperti kebahagiaan, hasrat, cita-cita, maupun cinta. Begitulah Mandala dalam bahasa Sanskerta ia diartikan lingkaran.

Mandala adalah yantra, symbol dari alam semesta, baik semesta raya maupun semesta tubuh, ia berbentuk lingkaran. Mandala berkaitan dengan Tantra, ia menekankan untuk mempelajari tubuh dalam rangka mencapai kelepasan. Pernyataan ini dikuatkan dan tertuang dalam geguritan Sucita Subudhi yang mengatakan; “Jenek ring Meru sarira, Kastiti Hyang Maha Suci, Mapuspa Padama Hredaya, Maganda ya tisning Budi, Malepana Sila Hayu, Mawija Menget Prakasa, Kukusing Sad Ripu dagdi, dupan ipun, Madipa hidepe galang”. Artinya, dikuil meru dalam diri, memohon pada Hyang Maha Suci, dengan sarana bunga Padma Hredaya, sarana harum kesejukkan Budi, didasari tindakan mulia, berbija magnet Prakasa, bersayapkan dupa Sad Ripu, berapikan pikiran terang. Itulah ‘jalan dalam diri’. Geguritan tersebut lebih lanjut memaparkan bahwa di dalam diri Meru (tiang suci) itu tegak lurus bagai buluh berlubang bulat berbentuk lingkaran (mandala) membungbung ke akasa jiwa. Di tubuh ini kita puja mandala dengan laku hening untuk mencapai Sang Yang Suci, pahit manis jalan kehidupan seperti kopi harus kita nikmati.

Mandala sering diartikan sebagai lingkaran suci sebagai seni meditasi yang mengungkapkan kekhidatan jiwa. Meditasi sendiri merupakan bagian dari yoga yang secara tidak langsung membahas tentang cakra-cakra dalam tubuh manusia, sehingga muncul istilah “Mandala Cakra”. Mandala dan Cakra sering diartikan sama adalah lingkaran atau roda yang mewakili dunia yang tak terbatas dikandungnya. Lingkaran menginspirasi penciptaan astronomi, geometri, sains, kalender dan waktu di seluruh dunia dalam setiap budaya manusia.

Osho, yang dikenal dengan nama Acharya Rajneesh pernah mengatakan, Tantra merupakan gagasan terbesar yang dimimpikan umat manusia. Tantra agama tanpa iman, agama tanpa kuil, agama tanpa organisasi. Tantra mempelajari tentang tubuh. Lebih jauh ia mengatakan, jika agama tidak menganjurkan untuk mempelajari tubuh, jika manusia tidak memiliki rasa kepercayaan diri terhadap tubuhnya, ia akan memiliki keterpisahan dengan tubuhnya. Hal yang fatal bisa terjadi seseorang akan memusuhi tubuhnya bahkan mengabaikan dan menghancurkan kearifan tubuhnya.

Tantra mempercayai indria, tantra mempercayai energi di dalam tubuh, tantra mempelajari tubuh secara keseluruhan. Tantra tidak menolak apapun, hal ini mentransformasi segalanya. Dengan belajar dan mempratekkan Tantra akan menemukan peta pelepasan, kita yang mendorong, dan kita juga yang masuk ke dalam. Tubuh adalah dasar pemujaan (mandala), bagi yang belajar tantra ia membumi di dalamnya. Pesannya, cintailah tubuh kita, jika tidak ia menghancurkan diri kita sendiri, membuat kita menjadi menderita. Anda dan saya adalah tubuh, tentu saja kita lebih dari tubuh.

Engkau adalah tubuhmu. Tubuhmu adalah kebenaranmu yang mendasar, jangan pernah melawan tubuhmu. Jika engkau melawan tubuhmu,  engkau melawan Tuhan. Jika engkau tidak menghotmati tubuhmu, engkau tidak menghormati Tuhan. Jika engkau tidak menghormati tubuhmu, engkau akan kehilangan kontak dengan kenyataan, karena tubuhmu adalah alatmu untuk membuat hubungan, tubuhmu adalah jembatanmu. Tubuhmu adalah kuilmu, tubuhmu adalah mandalamu. Tantra mengajarkan rasa hormat terhadap tubuh, cinta, rasa sayang, terhadap tubuh, rasa syukur bagi tubuh. Tubuh adalah hal yang luar biasa, ia adalah misteri terbesar, begitu Osho mengakhiri uraian singkatnya.

Mandala adalah bentuk visual atau simbol dari alam semesta. Dalam tantra, mandala dijadikan sebagai salah satu bagian alat bantu kontemplasi dan meditasi. Bangunan candi pda umumnya adalah untuk pemujaan, salah satu contoh Borobudur. Setelah diamati ternyata Borobudur bentuknya memang berupa mandala. Borobudur banyak menyampaikan pesan tersembunyi. Menapaki candi Borobudur dengan penuh kesadaran (eling), merenungkan dan melakukan kontemplasi. Puncaknya adalah bermeditasi dengan sangat mendalam. Mandala sebagai simbol alam semesta meliputi bhuana alit dan bhuana agung. Artinya simbol-simbol yang menunjuk hal-hal luar (bhuana agung), pada dasarnya merupakan simbol tentang diri kita sendiri (bhuana alit).

Jika kita menilik tentang agama purba, dalam banyak penelitian bahwa agama purba yang menjadi agama lokal, berupa agama tentang keseimbangan alam. Orang umumnya menyebut animisme dan dinamisme. Dalam perkembangannya, paham keseimbangan kekuatan alam ini maknanya sungguh mendalam. Memuja kekuatan alam seperti gunung berapi, itu mewakili elemen api. Memuja kekuatan samudera, itu kekuatan elemen air. Kekuatan yang dipuja itu sering disimbolkan dalam bentuk sosok dewa atau dewi.

Tradisi seperti ini masih ada hingga sekarang di nusantara ini. Sebagai contoh, jika kita amati tata letak keraton Yogyakarta, sebelah utara ada gunung merapi, merepresentasikan elemen api, dismbolkan denan Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan Kyai Sapujagad. Di seberangnya adalah laut selatan, merepresentasikan elemen air, disimbolkan dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sebelah Timur adalah gunung lawu. Dan sebelah Barat adalah Kahyangan Dlepih, merepresentasikan elemen angin, disimbolkan Sang Hyang Pramoni. Keraton Yogyakarta di tengah, merepresentasikan elemen ruang.

Secara garis besar, keseimbangan alam di luar tubuh kita perlu diatur, dibuat harmoni, atau dijaga keseimbangannya. Namun pada akhirnya, keseimbangan dalam diri ini yang paling penting untuk dijaga, tidak lain adalah pikiran kita sendiri, serta perilaku kita. Segala hal yang berhubungan dengan diri sendiri, ini adalah mikro. Ada tutur purba yang disebut sedulur papat limo pancer. Pancer adalah diri kita, pikiran kita, lebih spesifik adalah kesadaran  kita sendiri. Artinya, paham keseimbangan alam yang katanya “kuno”, digolongkan animism dan dinanisme, memiliki makna simbolik tertentu, makna yang tidak sederhana dibayangkan. Ketika masuknya Hindu dan Buddha hal itu bukan hilang taou diserap dan menyatu. Bangunan punden berundak menjadi mandala. Dan keseimbangan lima elemen menjadi bagian dari metode kontemplasi dan dirancang dalam bentuk mandala ini. Kesimpulannya mandala dalam tantra lebih pada pemahaman pemujaan kuil (meru) pada tubuh kita sendiri untuk mencapai Sang Hyang Dharma.

Oleh: Putu Wawan
Source: Majalah Wartam, Edisi 28, Juni 2017