Sepuh, Sesepuh, dan Ajisepuh

Memang benar kata orang Jawa bahwa ‘tua’ itu memiliki banyak makna. Kata ‘tua’ dalam bahasa Jawa disebut sebagai ‘tuwa’ atau dalam tingkat tutur yang lebih tinggi disebut dengan istilah ‘sepuh’. Dalam terminologinya, masyarakat Jawa sering membedakannya dalam tiga istilah yang berbeda, yaitu: sepuh, sesepuh, dan ajisepuh.

Sepuh artinya tua karena usianya. Orang yang sudah sepuh adalah orang yang sudah tua secara usia. Orang bisa dikatakan sepuh tentu pembandingnya adalah orang-orang yang usianya lebih muda darinya. Misalnya guru SD dikatakan sepuh jika dihadapkan oleh anak-anak didiknya, ayah dan ibu dikatakan sepuh jika dibandingkan dengan anak-anaknya. Tetapi jika ayah dan ibu kita dihadapkan dengan kakek dan nenek kita maka mereka tidak bisa dikatakan sepuh.

Sesepuh atau disebut juga pinisepuh adalah orang yang dituakan. Dalam masyarakat Jawa sesepuh ini biasanya ditujukan untuk orang-orang yang memiliki jabatan sosial tertentu, tokoh masyarakat, tokoh agama, pimpinan lembaga/organisasi dan sebagainya. Seorang kepala desa dikatakan sesepuh jika ia berada di desanya. Tetapi jika dia sebagai peserta rapat musrenbang di kantor bupati, maka dia tidak bisa lagi dikatakan sebagai sesepuh.

Ajisepuh adalah orang yang tua karena ilmunya. Masyarakat akan menilai seseorang sebagai ajisepuh dari kata-katanya, tingkah lakunya, kiprahnya, dan sebagainya. Karena hanya dari situ orang bisa diukur apakah dia layak dikatakan sebagai ajisepuh.

Idealnya orang yang berpredikat sebagai sepuh atau sesepuh adalah mereka yang juga memiliki kualifikasi ajisepuh. Sebagai seorang yang sudah sepuh tentu ia sudah banyak makan asam garam kehidupan sehingga sudah banyak pengalaman yang ia dapatkan. Seorang sesepuh akan dituakan karena kemungkinan ia sudah banyak pengalaman dibidangnya atau dalam organisasinya. Biasanya seseorang akan ditunjuk sebagai pimpinan atau sesepuh dalam sebuah organisasi karena loyalitas dan masa pengabdiannya kepada organisasi tersebut.

Namun sayangnya, kadangkala orang yang kita anggap sebagai sepuh atau sesepuh justru tidak bisa menunjukkan kualitas ajisepuh-nya. Sehingga muncul istilah ‘tuwa nanging tiwas’, yang dapat diartikan ‘tua usianya, tetapi buruk perilakunya dan tiada berguna’. Istilah ini senada dengan sebuah lagu dangdut berjudul ‘ABG Tua’ yang dipopulerkan oleh Fitri Karlina, atau seperti sebuah pepatah yang mengatakan ‘tua-tua keladi, makin tua makin menjadi’.

Selain itu dalam kehidupan kita sehari-hari baik itu di tempat kita bekerja, sekolah, kampus, lingkungan organisasi, lingkungan pemerintahan, masyarakat, dan sebagainya, orang yang dijadikan sesepuh kadang juga tidak memiliki kualitas ajisepuh. Bisa jadi mereka menjadi sesepuh atau pimpinan karena ia kaya, dekat atau ngathok dengan atasannya, main uang, atau karena kongkalikong lainnya.

Pemimpin yang hanya sebagai sesepuh tetapi tidak memiliki kualitas ajisepuh tidak akan bersinar di masyarakat. Ia hanya akan menjadi beban bagi orang yang dipimpinnya dan selebihnya ia hanya akan jadi bahan gunjingan. Begitu juga orang yang sudah sepuh tetapi tidak bisa memberikan suri teladan yang baik bagi anak cucunya, hanya akan menjadi orang tua yang tiada berguna sebagaimana dimanatkan dalam Kakawin Nitisastra I.7 berikut:

Wwanten wwang sugih artha hina sabhinuktinyalpa ring bhusana,
Wwanten wwang gunamanta sila naya hinanut rikang durjana,
Wwang dirghayusa wreddha hina tan arep ring dharmasastrolahen,
Yeku ng janma nirarthaka traya wilangnyoripnya nir tanpa don

Artinya:
Orang kaya yang makanannya tidak baik dan berpakaian tidak selayaknya;
Orang alim tetapi rendah tabiatnya dan suka berkumpul dengan orang-orang jahat;
Orang-orang sudah uzur dan tua umurnya tetapi rendah kelakuannya dan tidak suka mengamalkan ajaran suci;
Ketiga macam manusia ini adalah orang yang hidupnya tidak berarti dan berharga.

Senada dengan hal tersebut, KGPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama I.2 menegaskan: jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepa lir sepah samun, samangsane pakumpulan, gonyak-ganyik nglilingsemi (Diuraikan dalam Wedhatama, agar tidak kehilangan budi pekerti, padahal meski sudah tua renta dan mudah lupa, bila tak memahami perasaan, hanya akan menjadi orang tua yang tinggal ampasnya kering tiada berguna, apabila dalam suatu lingkungan atau perkumpulan, akan menjadi canggung dan memalukan). Singkatnya ajisepuh (ilmu pengetahuan) adalah keutamaan yang harus dimiliki oleh setiap manusia baik yang nantinya akan menjadi tua atau mereka yang akan dituakan. Tanpa pegangan ilmu manusia akan hidup dalam penderitaan.

Oleh karena itu tidak bisa ditawar lagi bahwa untuk bekal menjadi sepuh dan sesepuh, kita membutuhkan ilmu pengetahuan yang baik (ajisepuh). Saat orang sudah sepuh atau usia lanjut, kulit akan mulai mengkeriput, dan ajalpun akan datang menjemput, saat itulah kita membutuhkan ilmu pengetahuan dari guru suci untuk menyelamatkan jiwa kita seperti ditulis dalam Kakawin Nitisastra XIV.2 berikut:

Kunang i datengnya ng mreta tepet ambek,
Atutura ring yoga tayaning atma,
Taki-taki toson pakekesa sang wruh,
Wekasanikang tan hana juga toson

Artinya:
Seandainya sang maut sudah menjemput, keteguhan hati kita harus tetap terpagut.
Raihlah kesadaran melalui yoga tentang kelepasan jiwa.
Segera berlatihlah dan lakukan hal itu dengan berguru kepada mereka yang tahu.
Mengingat pada akhir waktu kita tidak ada yang bisa kita lakukan

Untuk menjadi sesepuh pun kita membutuhkan bekal ilmu pengetahuan yang cukup. Dengan bekal ilmu itu kita bisa memberikan solusi yang baik kepada umat atau orang yang datang kepada kita.

Jika selama ini kita menjadi sepuh hanya karena usia, maka mulai sekarang kita harus menyempurnakannya dengan ajisepuh. Pun jika selama ini kita memilih atau menjadi sesepuh hanya karena atas dasar kekayaan dan jabatan, maka mulai sekarang kita harus menyempurnakannya dengan ajisepuh. Dengan demikian predikat sepuh dan sesepuh yang melekat pada kita atau yang kita tujukan kepada orang lain akan menjadi sempurna karena ajisepuh mengiringinya.

Melihat ulasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sepuh adalah sebuah kepastian, sesepuh adalah kepercayaan, dan ajisepuh adalah sebuah pilihan. Sepuh adalah sesuatu yang pasti karena setiap manusia di dunia akan mengalami masa tua. Sesepuh adalah amanat atau kepercayaan yang diberikan kepada kita. Untuk itu kita harus bisa menjaganya dengan baik. Sementara itu ajisepuh adalah satu-satunya pilihan dalam hidup ini, karena tanpa sang ajisepuh (ilmu pengetahuan) kita akan jatuh dalam jurang kesengsaraan atau tersesat dalam jaring-jaring kegelapan. Hanya dengan ilmu pengetahuan saja kita bisa terbebas dari belenggu dosa dan penderitaan sebagaimana disebutkan dalam Bhagawad Gita IV.36:

Api ced asi papebhyah sarwebhyah papakrttamah,
Sarwam jnanaplawenaiwa wrjinam samtarisyasi

Artinya:
Walaupun engkau orang yang paling berdosa sekalipun,
dengan perahu ilmu pengetahuan lautan dosa akan engkau seberangi.

Oleh: Miswanto
Wakil Sekretaris PHDI Provinsi Jawa Timur