Tumpek Uduh Menyayangi Tumbuhan Secara Sempurna

Om dyauh santir antariksam santih, prthivi santir apah santih,
Osadhayah santih vanaspatayah santir, visvedevah santir brahma santih,
Sarvam santih santir eva santih, sama santir edhi
Om, Santih Santih Santih, Om
(Yajur Veda, 36.17)

"Ya Tuhan, semoga damai di langit, damai di antariksa, damai di Bumi, damai di Air, damai pada Tumbuh-tumbuhan, damai pada Pepohonan, Seluruh Dewata menjadi damai, damai Sang Pencipta, damai Semuanya, damai dan hanya damai. Semoga kedamaian datang kepada kami."

Sebagian besar literatur Veda mengajarkan kecintaan pada lingkungan dan hidup harmoni dengan alam sekitar. Para orang suci seperti Resi, Yogi dan lain-lain, selain dalam kesehariannya mengadakan pencarian spiritual, juga tekun dan tulus mendoakan agar alam lingkungan tetap indah, subur, dan damai. Hal itu menunjukkan bahwa keharmonisan hidup bersama alam tidak dapat dipisahkan dari hidup, praktik, dan tujuan agama atau spiritual.

Hidup berdampingan dan selaras dengan alam adalah bagian dari ajaran Tri Hita Karana dan telah menjadi ajaran yang menjiwai hidup seluruh umat Hindu di Bali. Menghargai alam merupakan salah satu cara untuk menjadikan (karana) hidup lebih sejahtera (hita). Manusia hidup dari alam, oleh karenanya manusia wajib menjaga dan menghargai alam. Adalah sebuah kesalahan besar bila manusia tidak menghargai dan menjaga alam, sebaliknya hanya bisa mengambil hasilnya saja untuk kepentingan dan kepuasan diri sendiri. Bahkan lebih jauh lagi, sadar tidak sadar merusak alam lingkungan yang menghidupi lahir batinnya.

Menurut Maharesi Vyasa hidup pepohonan hanyalah demi kebaikan dan kesejahteraan yang lain (paropakaraya phalanti vrksah). Oleh karena itulah harapan dan doa ditujukan kepada pepohonan dan tumbuhan (osadhayah santih vanaspatayah santih). Veda mengajarkan, "Makanlah bumi ini...", artinya manusia berhak memanfaatkan seluruh sumber daya alam yang ada di bumi ini sebagai waranugraha dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semua diciptakan olehNya untuk kesejahteraan umat manusia. Akan tetapi, manusia juga memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam.

Weda mengajarkan, manusia boleh memakan Ibu Pertiwi, tetapi hendaknya yang dimakan adalah sari-sarinya saja. Jangan "membunuh" alias menghancurkan bumi ini. Kesungguhan kitab suci Veda (Taittiriya Samhita, Rg Veda, Atharva Veda) dalam pelestarian alam ditunjukkan pada paparan khusus perihal cinta kasih kepada bumi yang dinamakan Bhu Sukta, Bhumi Sukia, atau Prithvi Sukta. Ibu Perthiwi dan Bapa Akasa yang dikenal di Bali juga berasal dari Rg Veda (tan mata prthivi tat-pita dyauh).

Barangkali Bhu Sukta ini juga yang menginsiprasi masyarakat Hindu di Gunungkidul di Jawa Tengah pada tradisi upacara Wisuda Bumi. Upacara tersebut merupakan bentuk penghormatan pada bumi yang telah memberi kemakmuran dan juga memohon pada Hyang Tunggal agar tidak terjadi bencana di bumi ini.

Rg Veda Samhita mengajarkan untuk tidak menghancurkan pepohonan, karena pepohonan adalah rumah bagi manusia. Pepohonan juga disebutkan sebagai harta karun bagi generasi manusia yang akan datang. Jika ia dihancurkan maka kita menghalangi generasi yang akan datang untuk hidup tenang damai sejahtera. Pemikiran indah penuh cinta kasih seperti inilah yang barangkali menjadi dasar dari lahirnya peringatan Tumpek Uduh.

Pada hari Tumpek Uduh ini yang juga disebut Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh, Tumpek Tetanduran, Tumpek Wariga, atau pun Tumpek Pengarah, umat Hindu di Bali memperlihatkan nyata rasa menyayangi tumbuhan dengan penghormatan sangat tinggi. Menyayangi tumbuhan dengan melakukan penghormatan sangat khusus pada tingkat "memuja" merupakan tindakan cerdas spiritual yang sangat tinggi, dan ia merupakan satu-satunya "harta karun tradisi indah" di dunia. Dapat dipastikan, kearifan lokal sangat mulia seperti ini tidak ada di tempat lain di dunia. Oleh karena itu, semua mempunyai kewajiban untuk tetap menjaga dan melestarikannya dalam tekad pasti, bahwa tradisi pemujaan Tumpek Uduh tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini.

Pada hari Tumpek Uduh ini umat Hindu memuja Tuhan, Sang Hyang Sankara yang telah nienciptakan berbagai macam tumbuhan "sarwa tumuwuh" yang bermanfaat bagi manusia. Peringatan suci ini juga dilakukan dalam peritungan kalender Bali sangat sempurna, yaitu bertemunya (nemu gelang) "puncak" Saptawara (Saniscara) dan "puncak" Pancawara (Kliwon) yang "muncak" atau "numpek" pada Wuku Wariga.

Dalam perayaan ini, selain ungkapan rasa angayubagia (syukur), umat Hindu juga memohon kepada Tuhan YME agar tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya dapat memberikan hasil yang terbaik sesuai yang diharapkan. Secara tradisi, umat "berbicara" dengan tumbuhan seperti ini, "Nini Nini..., buin selae dina Galunganne, mabuah pang ngeed... ngeed... ngeed." (Nini Nini..., Galungan sudah akan datang 25 hari lagi, berbuahlah yang lebat... lebat.. lebat).

Di India terdapat tradisi masyarakat Hindu melakukan penghormatan pada pepohonan, khususnya pada pohon-pohon yang diyakini sebagai pohon suci. Terutama pohon atau tumbuhan yang dianggap suci, seperti Tulasi (ocimum sanctum), pohon Boddhi (ficus religiosa), sejenis pohon "Ancak", Beringin (ficus benjamina), Mangga (mangifera indica), Nim/ Intaran (azadirachta indica), Kelapa (cocos nucifera), dan lain-lain. Rumput Kusa dan beberapa jenis bunga juga disucikan.

Ada banyak cara dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Leluhur kita mengajarkan, kalau menebang satu pohon maka tanamlah 5 pohon. Sebelum memotong pohon, diawali dengan meminta izin untuk memotong pohon melalui haturan canang, dan sebagai komitmen pelestarian pepohonan, di atas bagian akar pohon yang sudah ditebang ditancapkan ranting pohon sebagai simbol menanam kembali pohon yang sama. Menanam kembali 5 pohon yang sama, logikanya, ini adalah hitungan probabilitas, teori kemungkinan. Dari 5 pohon yang ditanam belum tentu semua tumbuh. Dari yang tumbuh belum tentu semua berumur panjang. Sebuah itung-itungan yang luar biasa dari nenek moyang kita yang "sederhana".

Beberapa suku bangsa di Indonesia masih memiliki hutan yang dikeramatkan dan hanya orang-orang tertentu saja, di wakru tertentu, yang boleh masuk untuk mengambil sesuatu yang jenis dan jumlahnya telah ditentukan secara adat. Salah satu contoh adalah Suku Kajang di daerah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Suku Kajang memiliki hutan keramat yang disebut Borong Karamaka. Hutan keramat ini terlarang dimasuki siapa pun kecuali ada acara ritual.

Bagi sebagian orang, mengeramatkan hutan beserta segala isinya mungkin dianggap sebagai tahhayul dan kuno. Namun bagi orang yang berpikir bijak, pengeramatan seperti itu adalah local genius masyarakat kita dalam upaya melestarikan lingkungan. Demi menjaga dan melindungi alam, cara berpikir bijak seperti itu patut dihargai dan dihormati.

Keberadaan pohon yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan hewan, menjadi sumber mengalir yang memberi kehidupan bagi semua makhluk. Melalui proses fotosintesanya, pohon menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh semua makhluk untuk bernafas. Akar pohon mampu menahan tanah dan mencegah longsor. Daun-daunnya menghambat laju curah hujan sehingga menghindari tergerusnya lapisan atas tanah yang merupakan lapisan subur. Keberadaan pepohonan menandakan kawasan subur. Pohon dan tumbuhan lainnya memiliki peran penting dalam sebuah ekosistem.

Hancurnya kawasan hutan menyebabkan hancurnya ekosistem karena rusaknya rantai makanan. Tanpa tumbuhan, keberadaan herbivora (hewan pemakan tumbuhan) akan lenyap dan tanpa herbivora, karnivora (hewan pemakan daging) pun punah.

Pemerintah pun memberikan perhatian serius terhadap hal ini. Melalui Kepres No. 24 Tahun 2008 menetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia, dan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional (BMN). Keputusan ini menunjukkan kepedulian pemerintah terhadap kelestarian lingkungan, khususnya kelestarian keberadaan pepohonan sebagai paru-paru dunia. Keputusan Presiden ini patut mendapat dukungan aktif dari seluruh masyarakat Indonesia.

Umat Hindu sangat berkepentingan dengan kelestarian alam demi penerapan ajaran Adhyatmika Prema (Cinta Kasih Sejati) dan penyediaan sarana upacara keagamaan. Tumbuhan menyediakan semua sarana Yajna (patran puspam phalam toyam). Oleh karena itu, menyayangi, menjaga dan melestarikan alam merupakan Manava Dharma (kewajiban sebagai manusia) dan Agami Dharma (kewajiban agama) bagi kita semua.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu 14 Agustus 2016