Wiswakarma dan Arsitektur

Masyarakat di muka bumi ini dilahirkan dalam berbagai perbedaan. Akibat dari perbedaan wilayah atau tempat kelahiran tersebut, maka masyarakat atau warga itu pun dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan atau tempat dimana mereka itu dilahirkan dan hal ini menghasilkan keberagaman dalam kehidupan masyarakat kita. Ini kita bisa saksikan dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya tentang keberagaman jenis makanan, tata cara bercocock tanam, bahkan bentuk-bentuk bangunan.

Sehubungan hal tersebut di atas kita yang dilahirkan di daerah yang secara geografis hampir memiliki segalanya, maka seharusnya kita bangga dengan apa yang ada di daerah kita ini. Hal ini perlu disadari karena ada suatu kecenderungan pada lingkungan kita dimana kita selalu membanggakan hal-hal yang datangnya dari “luar”, entah itu dalam mode, ataupun bentuk-bentuk bangunan atau tempat persembahyangan. Khusus dalam style bangunan, ada suatu tendensi dimana warga masyarakat itu senang memplagiat bentuk atau style bangunan dari “dura desa”. Banyak yang beranggapan bahwa bentuk bangunan dari pura desa tersebut kelihatan lebih bagus atau indah daripada apa yang leluhur wariskan kepada kita.

Berbicara mengenai bentuk atau style bangunan, maka pertama-tama kita harus mengerti dan paham mengenai apa yang dimiliki oleh alam sekitar, misalnya daerah-daerah yang memiliki banyak hutan, tentulah bangunan masyarakatnya banyak terbuat dari kayu. Begitu juga daerah-daerah yang alamnya banyak memiliki batu, sudah tentu bangunan mereka akan banyak terbuat dari batu alam, entah itu batu lahar, batu bata, marmer, granit dan batu-batu lainnya. Dari hasil mengolah kekayaan alam untuk pembangunan ini, maka dihasilkan berbagai nama style bangunan sesuai dengan olah piker para arsitek bangunan tersebut.

Dilingkungan masyarakat Eropa mereka mengenal style bangunan yang bernama “Gotik Style”, “Ronawi Style”. Di daerah kutub masyarkatnya mengenal bangunan “Eskimo Style”, di daerah Kalimantan masyarakatnya mengenal bangunan “rumah betang”. Itu artinya bangunan yang dihasilkan oleh masyarakat tersebut merupakan hasil olah pikiran manusia dengan memanfaatkan hasil alam sekitarnya dan kemudian menjadikannya ciri khas masyarkat tersebut. Pesan-pesan untuk memanfaatkan alam sekitar ini telah diajarkan oleh arsitek “sorgawi” yang dikenal dengan sebutan “Wiswakarma”.

Menurut ajaran Hindu bahwa “Wiswakarma” merupakan arsitek yang sangat terkenal dan beliaulah yang merancang kota “Dwaraka” atau “Dwarawati”. Nama yang beliau sandang bukanlah sekedar nama, namun terselip sebuah makna yang sangat dalam dan membawakan pesan kepada generasi masa datang agar pandai dan bijak memanfaatkan keadaan alam sekitar. Secara etimologi nama beliau terdiri dari “Wiswa” dan “Karma”. Wiswa berarti alam semesta dan karma bermakna kerja atau aktivitas.

Jadi dari nama yang beliau sandang, beliau berharap bahwa para arsitek bengunan di masa datang seharusya menghasilkan karya-karya monumental yang diharapkan menjadi karakter bangunan atau style bangunan di suatu wilayah. Beliau sudah sejak awal sudah memperingatkan warga atau masyarakat di muka bumi bahwa hendaknya dalam membangun suatu bangunan seharusnya disesuaikan dengan keadaan sekitar, sehingga masyarakat itu bisa mengurangi efek samping suatu pembangunan. Begitu juga beliau mungkin berharap bahwa kita harus bangga dengan apa yang dimiliki alam sekitar kita dan pandai-pandai mengolahnya. Namun sayangnya, pesan yang beliau ingin sampaikan sering tidak nyampai di masyarakat masa kini kita. Hal ini mungkin karena adanya efek globalisasi dimana dunia itu terasa semakin tanpa jarak yang didukung oleh kemajuan transportasi dan komunikasi.

Pada zaman dahulu misalnya warga kita akan bangga bisa membangun rumahnya dengan arsitektur Bali yang berdasarkan pada hukum “asta kosala-kosali” dan bahan bangunan yang dipakai disesuaikan dengan bangunan yang akan dibangun. Untuk membangun tempat suci akan dipakai kayu-kayu yang dianggap suci, seperti “majegau”, “waru”, “cempaka” sedangkan kayu-kayu untuk rumah warga akan memanfaatkan kayu nangka, jempinis, kutat dan lain sebagainya. Kayu-kayu itu pun pemanfaatannya disesuaikan dengan keadaan wiayah masing-masing warganya entah di daerah dataran tinggi atau rendah. Namun sekarang tradisi ini pelan tapi pasti terus ditinggalkan seiring dengan kemajuan zaman. Warga tidak banyak lagi memperhatikan jenis kayu yang dipergunakan untuk membangun suatu bangunan, misalnya pemakaian kayu jati, atau bingkerai. Kayu-kayu tersebut digunakan untuk semua jenis bangunan atas pertimbangan kepraktisan.

Selain hal yang telah disebutkan di atas, di lingkungan masyarakat kita ada pula suatu trend untuk meniru style bangunan dari “duru desa” atas nama eksotika dan estetika, misalnya dalam lingkungan “the have” mereka cenderung memilih style bangunan dari Eropa dengan gaya minimalisnya. Di lingkungan masyarakat spiritualis mereka cenderung meniru bentuk bangunan atau style bangunan dari asal muasal ajaran spiritual mereka. Tendensi ini bisa disaksikan di kehidupan para praktisi spiritual. Dan yang paling menyakitkan adalah dimana mereka lebih membanggakan budaya luar tersebut dan “tuna rungu” dengan warisan leluhurnya yang adi luhung. Uniknya lagi bahan yang dipakaipun lebih cenderung dari “dura desa”, sehingga bangunan-bangunan yang dibangun tersebut lebih banyak terbuat dari bahan “dura desa”, misalnya bahannya dari paras yogya, batu palimanan, marmer Italia dan sederet nama-nama bahan dari desa lainnya.

Bangunan-bangunan model luar Bali  itu secara fisik memang bentuknya mungkin indah, namun karakter lokalnya sedikit hilang. Kenyataan seperti memang tidak bisa dihindari namun apa yang dipesankan oleh aristek surgawi menjadi tidak nyambung. Rsi Wiswakarma menginginkan adanya kecerdasan dalam mengolah alam sekitar dimana kita dilahirkan, namun sayangnya pesan seperti ini rupa-rupanya tidak berlaku dijaman ini. Mungkin inilah efek kesejagatan dimana batas wilayah semakin sempit dan karakter suatu bangunan akan bercampur menjadi satu. Hal ini akan juga berpengaruh pada rasa hormat pada alam sekitar kita karena pikiran kita yang praktis dan pragmatis. Begitu pula usaha untuk melestarikan alam sekitar akan terus tergerus dan bukan tidak mungkin suatu saat tidak mengenal lagi istilah “paras malem blayu”, “paras ukir silakrang”, “para batu sarwa genep”, “paras kerobokan”. Mungkin juga suatu saat generasi kita tidak lagi mengenal nama-nama kayu di lingkungan sekitar mereka, seperti kayu nyantuh, jempinis, blalu, gintungan, taep, kutat serta kayu-kayu local lainnya.

Sebelum keadaan seperti yang disebutkan di atas terjadi, pesan-pesan yang disampaikan oleh Rsi Wiswakarma dimana kita seharusnya menghargai alam kita sendiri dalam membangun suatu bangunan di wilayah kita. Kita sebaiknya bangga dengan apa yang alam sekitar kita berikan kepada masyarakat kita. Boleh saja meniru bangunan dari luar Bali ataupun style bangunan dari luar negeri namun hendaknya bangunan tersebut menunjukkan keakrabannya dengan alam Bali. Bangunan yang dibangun tersebut hendaknya menjadi tanda suatu wilayah dimana berada dan bukan sebaliknya dimana suatu bangunan entah itu tempat tinggal atau tempat suci menjadi bangunan “aneh” yang mengundang pertanyaan warga sekitarnya.

Marilah bangga dengan apa yang alam kita miliki dan manfaatkanlah sesuai dengan kebutuhan. Semoga di masa datang akan lahir “Wiswamakarma-Wiswakarma” yang membuat para undagi kita harum namanya di mata dunia.

Oleh: I Wayan Miasa
Source: Majalah Hindu Raditya, Edisi 240, Juli 2017