Artikel Pada Kategori "Artikel Baru"

Desa, Kala, Patra vs Homogenisasi

kategori: Artikel Baru
Umat Hindu dari Bali di Palangkaraya pernah resah. Isu itu memang tak pernah jelas, hingga kini. Tetapi menurut kabar, mereka sempat (katanya) agak “memaksakan” upacara keagamaan seperti di Bali. Beruntung, sampai saat ini Balai Sarah masih tegak menjadi sentral pemujaan ke hadapan Sang Atalalangit. Hal yang sama, meski tersamar, sempat juga terdengar umat Hindu di Jawa sebenarnya “tidak terlalu nyaman” dengan pura karena sejak hidup dan mendapat pengaruh agama, mereka melakukannya di bataran candi. selengkapnya

Telinga dan Bunyi Sunyi

kategori: Artikel Baru
Entah untuk apa sesungguhnya telingan itu diciptakan. Kata orang-orang bijak, telingan diciptakan untuk mendengarkan suara-suara. Mungkin saja demikian adanya, sebab telinga saya mendengar banyak hal ketika memikirkan tulisan ini. Ada suara motor, mobil, orang berteriak, burung, ketokan palu, dan masih banyak lagi. Anehnya, saya merasa tahu bahwa suara teriakan yang tadi terdengar adalah suara seorang ibu yang memanggil anaknya. selengkapnya

Tentang Mahardika

kategori: Artikel Baru
Kata ‘mahardika’ berasal dari bahasa sanskerta ‘maharddhi’ yang berarti “kemakmuran, kekuasaan, kesempurnaan, besar, sangat makmur, kuasa”. Sebagai suatu istilah filsafat kata “mahardhika” sendiri berarti “berkualitas istimewa, luar biasa, khas, unggul, sempurna, berbudi luhur, orang bijaksana, orang suci.” selengkapnya

Merdeka tapi Bersusila

kategori: Artikel Baru
Merdeka bersusila itu bebas dalam keterikatan dengan pengendalian diri dalam, berpikir, berkata, dan bertindak. Sentuhan dengan dunia inilah menimbulkan bermacam-macam fenomena kejiwaan dan bermacam peristiwa-peristiwa perbuatan manusia. Dunia ini demikian manariknya, demikian indahnya sehingga pikiran orang diiinabobokan melalui indriyanya, lupa akan hakekat kemanusiaannya. Menjadi kata kunci kemerdekaan bersusila itu sejatinya pengendalian dalam diri, supaya sang pribadi dapat menjadikan ia budaknya dan bukan pribadi menjadi budaknya. selengkapnya

Kemerdekaan Yadnya

kategori: Artikel Baru
Spiritualitas jangan sampai rapuh tergerus arus modernisasi dengan lifestyle yang praktis dan ekonomis bahkan sampai terjadi pendewaan atas materi (hedonism), gegap gempita kecanggihan teknologi telah membuat on time menikmati indahnya menu handphone, televisi, yang jauh jadi mendekat dan yang dekat terlihat jauh. Kini seolah dunia tiada batas lahi tinggak klik semua bisa di akses dengan cepat. Apakah kita harus menolaknya? Alangkah indahnya berenang di lautan tradisi dan modernisasi. selengkapnya

Merah Putih dalam Tri Datu

kategori: Artikel Baru
Mendengarkan kata Tri Datu, spontan pikiran terbayang pada sebuah benda yang terbuat dari jalinan benang tiga warna: merah, putih, dan hitam. Biasanya jalinan benang tiga warna itu digunakan sebagai gelang yang diperoleh setelah melakukan ritual keagamaan. Tri Datu atau sering juga disebut Sri Datu itu sendiri berarti “tiga raja”, yang tidak lain dari tiga kekuatan yang menjadikan (Brahma), melangsungkan (Wisnu), dan mengembalikan (Pralina) kehidupan ini kembali ke asal-Nya. selengkapnya

'Kemerdekaan’ dari benang merah Kerajaan Hindu

kategori: Artikel Baru
Kata ini tidak hanya berarti bebas, liberasi, tetapi juga raihan dari sebuah perjuangan (tapa) dari ketertindasan, pun keterikatan. Degan kata lain, siapapun merasakan ketertindasan, hak azasinya yang paling hakiki, yaitu kebebasan, pasti sangat mendambakan kata itu bagai menemukan oase di gurun pasir. “Merdeka” mewakili hasrat primordial umat manusia. Tak heran, nyawapun rela dikorbankan. selengkapnya

Mahardika Namaskara

kategori: Artikel Baru
Menurut Yoga Sutra Patanjali ada Sembilan jenis penghalang yang menjadikan seseorang tidak mampu mencapai kemerdekaan atau kebebasan. Kesembilan jenis itu sepenuhnya berhubungan dengan kualitas diri. Sepanjang itu semua masih bercokol di dalam diri, maka dipastikan bahwa upaya meraih mahardika atau kebebasan akan terhambat. Mengapa demikian? Karena kesemuanya ini akan menjadi seperti sebongkah batu yang menghalangi aliran air. Maka dari itu, untuk meraih kebebasan, seseorang harus mampu menghilangkan kesembilan jenis ritangan ini. selengkapnya

Nagarakretagama atawa Nagaragama?

kategori: Artikel Baru
Nagarakretagama adalah kakawin Jawa Kuno karya Mpu Prapanca yang paling termasyur dan ditulis tahun 1365. Naskahnya ditemukan kembali pertama kali tahun 1894 oleh J.L.A Brandes, seorang ilmuan Belanda yang mengiringi ekspedisi KNIL di Lombok, di perpustakaan Raja Lombok di Cakranegara sebelum istana sang raja dibakar tentara KNIL. Karya sastra Jawa Kuna berbentuk kakawin dengan titel Negarakretagama yang judul aslinya Desawarnana ini, merupakan sumber sejarah terpercaya dari kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Sri Rajasa-nagara), lantaran ditulis semasa kerajaan Hindu Majapahir berdiri dan masih berputar roda kerajaannya. selengkapnya

Mahardika di Antara ‘The Four Freedom’

kategori: Artikel Baru
Para filsuf eksistensialis memahami manusia adalah mahluk bebas. Jadi, kemerdekaan adalah hakikat eksistensi manusia. Meskipun dalam realitas empiris manusia tidak pernah sepenuhnya bebas karena sebagai eksistensi, ia selalu berada dalam ruang, waktu, dan tindakan yang membatasi manusia dalam kebebasannya. Batasan itu dapat berwujud tata aturan, nilai, dan norma yang mengatur kebebasan individu yang lain. Selain itu, juga terdapat batasan-batasan yang berwujud pengingkaran terhadap hakikat kebebasan dan kemanusiaan, misalnya penjajahan. selengkapnya