Artikel Pada Kategori "Artikel Pilihan"

Sraddha Sebagai Dasar Utama Keberhasilan

kategori: Artikel Pilihan
“Pertama-tama Sraddha terbentuk dalam kesadaran, dilanjutkan pada pergaulan dengan orang-orang suci. Pada tahap berikutnya, praktik-praktik spiritual dilakukan demi mengarahkan pada keadaan terbebaskan dari hal-hal yang tidak diinginkan, lalu mencapai kemantapan keyakinan yang sangat kokoh ajeg, dan pada akhirnya muncullah kerinduan spiritual pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.” selengkapnya

Memerangi Sampah Plastik dalam Strategi Revolusi

kategori: Artikel Pilihan
BHUMI adalah bumi ini, tempat kita diajak berpijak untuk menjadi bijak. Bumi memberi, memelihara dan menghidupi semua. “Mata bhumi”, bumi adalah Ibu. Tempat kita berpijak ini adalah Ibu. Bumi yang menghidupi kita ini adalah Ibu. Bumi atau Pertiwi melahirkan, membesarkan, memelihara, menjaga, menghidupi dan akhirnya “mengambil” kembali ke dalam “pelukan”-nya pada waktunya. selengkapnya

Wani Ta?

kategori: Artikel Pilihan
Judul di atas adalah sebuah pertanyaan besar yang perlu direnungkan untuk setiap Wanita Hindu di seluruh Indonesia. Sebenarnya judul ini merupakan pertanyaan untuk menanggapi tema yang diberikan oleh Pengurus Pusat Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) dalam memperingati HUT ke-31 WHDI pada tahun 2019 melalui Ketua WHDI Kabupaten Blitar. Adapun tema dari WHDI Pusat melalui surat edarannya nomor:B/16/I/2019/Set tanggal 16 Januari 2019 adalah “Peran Wanita Hindu Dharma Indonesia dalam Melaksanakan Dharma Negara”. selengkapnya

Lungsuran, Surudan, Paridan

kategori: Artikel Pilihan
Hukum Tri Kona; utpeti-sthiti-pralina adalah sistem daur ulang kehidupan. Apa yang tiada menjadi ada, lalu terpelihara untuk akhirnya kembali sima. Begitupun dengan aktivitas yadnya, diutpeti dulu menjadi banten, disthiti menjadi haturan bhakti, sampai akhirnya menjadi pasuecan/paican Ida Bhatara. Saripati hasil pertemuan bhakti umat kalawan sueca Widhi/Ida Bhatara-Bhatari itulah kemudian lumrah disebut lungsuran atau surudan, yang dalam bahasa Sanskrit dinaikkan derajat maknanya menjadi prasadham (menikmati sajian yang telah disucikan). selengkapnya

Bisa, dan Misa-Misa

kategori: Artikel Pilihan
Ada tiga kata dalam khazanah bahasa Bali yang satu sama lain serangkai pengejawantahannya, yaitu bisa, nawang, dadi. Bisa, artinya ‘mampu' (berbuat sesuatu), nawang artinya 'tahu’ (uning/wikan) tentang sesuatu, dan dadi artinya “boleh” (melakukan sesuatu. Seseorang dikatakan bisa karena mampu berbuat atau melakukan sesuatu yang bisa dikerjakan. Sementara itu, disebut nawang, menunjuk pada pengetahuan yang diketahui atau dikuasai. Sedangkan dikatakan dadi, ketika seseorang sudah boleh melakukan apa yang semestinya dikerjakan, setelah yang bersangkutan dianggap bisa dan nawang. selengkapnya

Memahami Tuhan yang Tidak Terpahami

kategori: Artikel Pilihan
Orang sering mencari Tuhan (hanya) di tempat-tempat sembahyang seperti Pura, Masjid, Gereja, Vihara, Mandir, dan lain-lain. Begitu mereka balikkan badan dari Pura dan lain-lain maka dia sudah tidak bersama Tuhan karena Tuhan "dititipkan” di Pura, Masjid, Gereja, Vihara. selengkapnya

PATIBRATA - Membaca Pesan Ibunda Sita Kepada Generasi Milenial

kategori: Artikel Pilihan
Panah bernama guhya wijaya yang diberikan Dewa Indra kepada Rama berhasil menggugurkan Rawana. Apakah masalah selesai? Ternyata tidak. Setelah musuh di luar diri dikalahkan, maka pertempuran yang sejati adalah perang melawan musuh yang konon tempatnya dekat. Pengarang kakawin Ramayana sejak awal telah mengingatkan bahwa musuh itu tidak jauh, ia dekat, ia berada di dalam diri, ia bermarkas di hati. Pada gilirannya, reinkarnasi Wisnu itu juga berhadapan dengan dirinya sendiri. selengkapnya

Menembus Segala Rahasia Melalui Mata Spiritual

kategori: Artikel Pilihan
Caksu berarti mata, dan divya berarti spiritual, agung, mulia. Sloka ini memberikan peringatan tegas bagi umat manusia agar selalu mempergunakan “bukan mata dunia” untuk melihat segala sesuatu tentang ketuhanan. Mata yang diperlukan ternyata adalah mata spiritual dan bukan material. selengkapnya

Diperbatasan Lidah Sejatinya Zona Anugerah

kategori: Artikel Pilihan
Lagi kita bicara tentang lidah. Karena lidah adalah sarana berucap, berbahasa, dan menyuarakan sari-sari shastra. Dan juga karena lidahlah yang biasanya dirajah dalam upacara inisiasi, untuk mendudukkan Saraswati, bahkan Sang Hyang Pashupati, agar kata-kata yang ke luar tidak kosong seperti ampas. Berikut ini, sedikit tambahan perbincangan tentang lidah. selengkapnya